Pesan RA Kartini Sebenarnya Mengenai Emansipasi Wanita

Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]Orang sering menjuluki Kartini sebagai pejuang emansipasi wanita. Benarkah? Simak saja petikan suratnya:

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].

Kartini juga tidak serta merta western-minded, memandang nilai-nilai barat sebagai yang paling baik.

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902).

Inilah gagasan Kartini yang sebenarnya, namun kenyataannya sering diartikan secara sempit dengan satu kata: emansipasi. Sehingga setiap orang bebas mengartikan semaunya sendiri.

Lihat juga:

Kisah Kesabaran Yang Menggetarkan Jiwa

Kasih sayang seorang ibu muslimah.

Sekali waktu, saya mengoperasi seorang anak berumur 2,5 tahun. Hari itu adalah Selasa dan pada keesokan harinya anak itu dalam keadaan sehat. Pada hari Kamis jam 11:15 pagi – saya tak akan pernah melupakannya karena ketegangan yang saya alami – seorang perawat memberitahu saya bahwa anak itu berhenti bernafas dan jantungnya tak berdetak. Saya bergegas … Baca Selengkapnya

Aku Ingin Membaca Qur’an untuk Ibuku

Sebuah kisah yang menyentuh hati tentang harapan indah seorang ibu kepada anaknya dan bakti sang anak kepadanya. Ahmad berumur sebelas tahun ketika ibunya (orang tua tunggal) mengantarnya untuk kelas Qira’ati (membaca Al Qur’an). Saya suka anak-anak itu memulai belajar membaca Qur’an di awal usia, terutama anak laki-laki. Aku sampaikan hal itu pada Ahmad. Namun ia … Baca Selengkapnya

Video: Kita, Ibu, Hanya Satu Kesempatan

Di bawah ini adalah sebuah video karya beberapa mahasiswa Universitas Indonesia (kelompok AdSmith) yang mencoba mengangkat nilai Ibu dalam kehidupan manusia. Judul video ini adalah: Life Recorder (Rekaman Kehidupan). Pada bagian akhir video tersebut dituliskan: Engkau tak bisa mengganti apa yang telah engkau sia-siakan. Waktu dengan ibumu adalah TERBATAS. Ya benar, ibu, orang tua kita … Baca Selengkapnya