Wabah Difteri dan Anti Vaksinasi

Berikut ini adalah sebuah tulisan dari seorang Dokter Anak, Sylvi Anita, yang mengulas “Kejadian Luar Biasa” (KLB) wabah Difteri yang terjadi di Semarang. Ia mengungkap fakta kejadian dan hubungannya dengan imunisasi atau vaksinasi. Selamat menyimak:

Hancur hati saya membaca pembahasan grup WA Ikatan Dokter Anak Indonesia kemarin siang. Dikabarkan terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di Semarang yang menyerang 7 orang pasien, 2 diantaranya meninggal. Kesemuanya TIDAK PERNAH VAKSINASI, dikarenakan kepercayaan, atau kekeraskepalaan, dari orang tuanya.

Teringat beberapa waktu lalu, saya merawat seorang pasien, usia 7 bulan, BB 4,3 kg, dengan sesak nafas dan penurunan kesadaran.
🙋 : bunda, dari foto rontgent nya, adek menderita TB berat, hampir semua area paru terkena. Penurunan kesadaran dan kekakuan sebelah tubuhnya menandakan penyakitnya sudah pula sampai ke otak. Apakah adek diimunisasi lengkap?
👩 : imunisasi sekali setelah lahir di bidan, setelahnya tidak pernah.
🙋 : boleh saya tahu kenapa tidak imunisasi?
👩 : soalnya kalau posyandu sering telat.
🙋 : tidak berusaha disusulkan?
👩 : ya pokoknya nggak aja. Ayahnya tidak mengijinkan anaknya diimunisasi.
🙋 : 😭😭😭😭😭

Apa hubungannya pasien saya dengan KLB difteri yg sedang terjadi di Semarang itu? Hubungannya adalah sama-sama TIDAK VAKSINASI, karena berbagai alasan. Mari kita bahas sedikit lebih dalam.

Apa beda Imunisasi dan Vaksinasi?

Mungkin sebagian masih bingung beda imunisasi dan vaksinasi. Imunisasi adalah usaha memberikan kekebalan, baik yg secara aktif memberikan vaksin supaya badan membentuk sendiri kekebalannya, atau secara pasif dengan memberikan zat kebal itu sendiri. Vaksinasi adalah salah satu bentuk imunisasi aktif, jadi kita mengenalkan bakteri atau virus atau sedikit bagiannya, dengan tujuan agar badan bisa menbentuk kekebalan secara aktif.

Bagaimana sistem kekebalan terbentuk?

Pintarnya sistem kekebalan kita, kalau sudah pernah kenal sama kuman sebelumnya, maka kalau suatu saat kena kuman yg sama akan dengan cepat membentuk tentara kekebalan dalam jumlah banyak dan spesifik untuk mempertahankan diri. Jadi kalau kecilnya sudah vaksinasi, jika suatu saat kena penyakit yg sama dgn yg divaksinasikan, maka anak akan kebal, tidak jadi sakit, ataupun sakit tapi ringan gejalanya.

Lha trus kalo sakit secara alamiah apakah bisa membentuk kekebalan juga?

Jawabannya adalah BISA! Tapi apa iya mesti mengalami sakit infeksi alamiah dulu yang pasti gejala lebih berat dibanding sakit “buatan” paska imunisasi yang biasanya hanya berupa demam singkat saja. Contohnya difteri, infeksi alamiahnya bisa membuat hambatan jalan nafas, kerusakan otot jantung, bisa fatal, sementara paska vaksinasi kemungkinan hanya demam ringan 2-3 hari. Coba dipertimbangkan dan dipikirkan lagi.

Kalau anak saya tidak vaksinasi, toh risikonya ditanggung sendiri kan?

SALAH BESAR!! Tujuan imunisasi bukan hanya membentuk kekebalan secara individu, tapi juga kekebalan komunitas secara keseluruhan. Jadi begini, kalau seorang anak tidak divaksinasi lalu sakit, maka di sekitarnya akan kemungkinan tertular. Kalau di sekitarnya ada anak yang karena keadaan tertentu menjadi immunocompromized alias tidak mampu membentuk kekebalan (misalnya lagi pengobatan kanker, bayi yg sangat kecil, sakit HIV, lagi pengobatan steroid, dll) maka akan ikut kena sakit berat. Dzolim nya bukan cuma sama anak sendiri, tapi juga ke masyarakat! Na’udzubillah…

Tapi kabarnya pembuatan vaksin bersinggungan dengan babi, haram kan?

Memang ada, tapi tidak semua vaksin. Dan beberapa vaksin sedang diusahakan untuk sama sekali tidak bersinggungan dgn babi, dan mendapatkan sertifikasi halal. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwa nomor 4 tahun 2016 sudah menyatakan bahwa vaksinasi BOLEH. Segala yg beralasan darurat diperbolehkan. Dan jika permasalahan mengancam nyawa, maka upaya pencegahan justru diharuskan. Ulil amri kita sudah membolehkan, bahkan mewajibkan, harus berdebat bagaimana lagi?

Penyakit yang diusahakan ada vaksinnya adalah penyakit yang mengancam nyawa (difteri, tetanus, pertusis, HiB, campak, dll) atau mengancam kecacatan dan kesakitan jangka panjang yang akan menurunkan produktifitas di kemudian hari (polio, TB, dll). Dulu pernah Indonesia bebas polio, namun karena saat ini banyak yg tidak vaksinasi, kejadian polio muncul lagi. Sepanjang saya pendidikan juga tidak pernah menemukan difteri, tetanus dan pertusis. Baru pada saat akan lulus, muncul kasus berat yang berakhir fatal. Keseluruhan kasus dengan riwayat tidak vaksinasi. Beberapa kasus meningitis alias radang selaput otak karena TB yang berakhir dengan kelumpuhan, juga terjadi pada anak yang tidak vaksinasi. Astaghfirullah…

Apa itu Difteri?

Sedikit membahas tentang difteri yang sedang KLB, Difteri adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Gejala yang muncul ialah sakit tenggorokan, demam, sulit bernapas dan menelan, mengeluarkan lendir dari mulut dan hidung, pembesaran kelenjar getah bening leher dan pada kasus yang berat mengenai jantung dan menyumbat jalan nafas. Penularan dari cairan mulut atau hidung orang yang terinfeksi. Taruhannya nyawa, tapi pencegahannya cukup dengan vaksinasi, sesimpel itu saja.

Sekali lagi, mencegah lebih baik daripada mengobati, lebih lagi pada kasus yang sangat sulit diobati. Karena itu, mari bersama, berpikir kritis namun realistis, menurunkan ego membuka selebarnya cakrawala. Kalau tidak yakin dengan vaksinasi, hubungi pihak yang berkompeten menjelaskan. Kalau ada berita miring tentang vaksin baiknya tidak ditelan bulat2 tanpa konfirmasi ke sumber terpercaya.

Betul hidup-mati, sehat-sakit adalah ketentuan dari Sang Penggenggam Takdir. Semacam naik motor pakai helm atau tidak pakai helm kalau kecelakaan bisa fatal, namun kesempatan selamat pagi yang pakai helm lebih besar. Dan kalaupun mati, pas nanti ditanya Allah, yang pakai helm nggak bingung jawab karena setidaknya sudah ikhtiar pencegahan. Kiranya Allah Sang Penguasa Semesta memberikan kesehatan dan kemaslahatan untuk kita…

– catatan dokter anak yang tidak berniat menebar kegundahan terkait KLB, hanya berkeinginan meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan untuk usaha pencegahan –

Sylvi Anita

Leave a Reply