Belajar dari “Bumi Datar”: Matahari Tidak Pernah Tenggelam?

Penganut faham “Bumi Datar” atau “Flat Earth” meyakini bahwa matahari sebenarnya tidak pernah tenggelam. Karena matahari hanya berputar di atas piringan bumi yang datar, sejajar dengan permukaan bumi, maka fenomena matahari tenggelam sebenarnya hanyalah karena matahari menjauh dari kita sehingga terlihat lebih rendah dan mengecil.

Mereka yang percaya “bumi datar” mencoba menerangkan tenggelamnya matahari dengan teori perspektif. Sama dengan lampu-lampu di jalan raya yang semakin lama terlihat semakin turun dan seolah-olah menyentuh ufuk atau horison, demikianlah matahari tenggelam dan terbit.

Benarkah demikian?

Mari kita lihat kenyataan mengenai tenggelamnya matahari. Matahari disebut tenggelam karena memang demikianlah ia terlihat saat menjelang malam. Matahari seolah masuk ke dalam bumi di cakrawala, bagian bawahnya terlebih dahulu hingga tidak terlihat. Itulah yang terlihat sebagai tenggelam.

Tenggelam tidak sama dengan mengecil karena perspektif. Bahkan pada kenyataanya, ukuran matahari yang sedang tenggelam terlihat tidak mengecil sama sekali. Terkadang malah kita melihat seolah matahari lebih besar di saat senja dibandingkan di saat siang hari.

Mereka yang memiliki kamera dengan lensa tele atau teropong akan bisa menyaksikan lebih jelas mengenai fakta: tidak mengecilnya ukuran matahari saat terbenam ini. Foto-foto bawah ini memperlihatkan bagaimana matahari tenggelam.

Bukti matahari tenggelam, tidak terlihat bagian bawah terlebih dahulu. Matahari tidak menghilang seperti teori "bumi datar"
Bukti matahari tenggelam, tidak terlihat bagian bawah terlebih dahulu. Matahari tidak menghilang seperti teori “bumi datar”
Seri foto urutan matahari saat tenggelam. Ukuran matahari tidak terlihat mengecil atau menghilang sebagaimana dikatakan para penganut "bumi datar".
Seri foto urutan matahari saat tenggelam. Ukuran matahari tidak terlihat mengecil atau menghilang sebagaimana dikatakan para penganut “bumi datar”.
Matahari tenggelam, bukan mengecil karena perspektif.
Matahari tenggelam, bukan mengecil karena perspektif.

Jelas terlihat bagaimana matahari tidak mengecil karena perspektif seperti yang disangka oleh penganut faham “bumi datar”.

Perhitungan matematika sederhana juga membuktikan bahwa matahari tidak bisa tenggelam dalam model “bumi datar”. Hal ini bisa dijelaskan dengan memperhatikan fakta:

saat matahari terlihat tenggelam di satu kota, maka pada jam yang sama matahari terlihat di atas kepala di kota yang lain.

Contohnya, jika matahari tenggelam di Jakarta pada jam 6 sore, maka pada saat itu, di Nigeria matahari berada di atas kepala atau jam 12 siang. Jika hal ini kita terapkan pada model bumi datar maka kita akan bisa menghitung dengan mudah derajat ketinggian matahari jika dilihat dari Jakarta pada jam 6 sore tersebut.

Ternyata matahari tidak bisa tenggelam di dalam model "bumi datar".
Ternyata matahari tidak bisa tenggelam di dalam model “bumi datar”.

Jarak antara Jakarta dengan Nigeria adalah sekitar 11.000 km. Menurut penganut “flat earth” matahari berjarak 5000 km dari permukaan bumi datar. Kini kita memiliki segitiga siku-siku jika titik Jakarta dihubungkan dengan Nigeria dan matahari tepat di atas Nigeria. Dengan rumus trigonometri sederhana, kita bisa hitung sudut yang dibentuk oleh posisi matahari jika dilihat dari Jakarta. Hasilnya adalah sekitar 27 derajat! (arcsin(5000/11000) = 27 derajat)

Lihatlah, 27 derajat itu masih tinggi di atas ufuk. Jadi, dalam model bumi datar, seharusnya kita masih bisa melihat matahari di atas ufuk saat jam menunjukkan pukul 6 petang di Jakarta. Kenyataannya tidak demikian!

Tenggelamnya matahari menunjukkan fakta bahwa bumi memang bulat. Kita tidak bisa melihat matahari sesudah tenggelam karena terhalang oleh lengkungan bumi yang bulat dan berputar. Jarak matahari dengan bumi sangatlah jauh dan relatif tidak berbeda antara saat matahari di atas kepala atau di saat terbenam/terbit. Hal inilah yang terlihat dari tidak mengecilnya ukuran matahari saat tenggelam. Ukurannya relatif sama baik saat di atas kepala maupun menjelang terbenam.

 

Save

Save

Related tags:

matahari lebih kecil dari bumi flat earth;

Related Post

Spread the love

11 Comments for “Belajar dari “Bumi Datar”: Matahari Tidak Pernah Tenggelam?”

Omar Mekasen

says:

Saya semasa SD & Madrasah Ibtidaiyyah, SMP apalagi setelah SMA saya yaqin Bumi dan seluruh Planet dan Matahari adalah bulat. Sedangkan Jutaan Galaksi terdiri dari Matahari & Planet2 yg bulat2 juga. Tapi tiap Galaksi terhampar termasuk Galaksi Bima Sakti yg di dalamnya ada Planet Bumi.

Mch Said

says:

Admin, saya mau bertanya mengenai semua ini
Pada pembahasan diatas telah dipaparkan sejelas sedetail mungkin tentang kesalah pahaman flat earth dari berbagai sisi. Baik itu dari batas pandangan, matahari dll. Jika dilihat dari logika bumi bulat itu memang logis.
Nahhh, pertanyaan saya itu Jika kita percaya bumi itu bulat, brarti bumi itu lebih kecil daripada matahari, ya kan? Trus bumi itu mengelilingi matahari ya kan? Matahari tetap diam ya kan?
Kalau memang seperti itu, bagaimana anda menjelaskan ayat dari surat yasin ayat 36 yang berbunyi : “wasy syamsu tajrii limustaqarril laha, dzalika taqdiirul ‘aziizil ‘alim”, Dan matahari itu Berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) yang maha perkasa lagi maha mengetahui. (Q.s 36 : 38). Sedangkan dalam paham bumi bulat, matahari itu diam dan bumi yg bergerak.
Mohon penjelasannya…
Thanks….

says:

Matahari diam relatif terhadap bumi yang mengelilinginya dalam konteks Tata Surya (matahari kita dan benda2 langit yang mengelilingi). Tata surya sendiri mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti. Jadi, matahari pun juga bergerak dalam garis edarnya mengelilingi pusat galaksi.

Naga Askyc

says:

Mohon jawabannya Habib. Lalu apakah ada di surat atau ayat yang menjelaskan Matahari berjalan / mengelilingi galaxy yang anda maksud Bimasakti? Lalu Ada 1 pertanyaan sederhana ttg satellite ISS, katanya sangat cepat ya Habib.. Berapa kecepatannya? ( mohon dilihat dengan jeli bentuk dari ISS tsb spt apa dan efek dari kecepatan yang katanya sangat cepat, bahkan jika habib tau persis berapa kecepatan Bumi mengelilingi matahari maka akan berhubungan langsung dengan kecepatan ISS mengelilingi BUMi dan bs dibayangkan kita bersama bentuknya akan jadi seperti apa. Mohon pencerahannya. Terima kasih ,wassalamualaikum

says:

Al Qur’an bukanlah buku pegangan kuliah yang menjelaskan secara rinci sebuah bidang ilmu tertentu. Allah menjelaskan bahwa matahari bergerak dalam garis edarnya. Dan para ilmuwan juga menemukan hal yang sama. Gerakan matahari ada yang disebut gerakan semu ada yang bukan. Yang semu termasuk “gerakan” harian matahari dari timur ke barat dan juga “gerakan” tahunan matahari dari utara ke selatan dan sebaliknya.

Garis edar lainnya adalah orbit yang diikuti matahari dan jutaan bintang lainnya dalam mengelilingi pusat galaksi.

Jika Al Qur’an tidak menyebutkan secara spesifik bukan berarti hal tersebut tidak ada atau bertentangan dengan kalam ilahi. Contohnya, Allah menyebutkan di dalam Al Qur’an bahwa Dia menciptakan malam untuk beristirahat. Apakah jika ada orang yang bekerja di malam hari berarti ia menentang Allah? Allah juga menyebutkan bahwa Ia menciptakan binatang-binatang, dan sebagian dari mereka disebutkan berjalan dengan 4 kaki, 2 kaki atau di atas perutnya [24:45]. Allah tidak menyebutkan binatang yang berkaki 6, 8 atau “seribu”. Apakah kemudian kenyataan tersebut bertentangan dengan ayat Al Qur’an?

says:

Ada apa dengan kecepatan satelit? Atau kecepatan ISS? Ia mengelilingi bumi dengan kecepatan sekitar 28 ribu km/jam. Adakah yang salah dengan kecepatan seperti itu? Jika anda membandingkan dengan benda-benda yang bergerak DEKAT dengan permukaan bumi anda mungkin akan bertanya-tanya: mengapa tidak hancur, seberapa kekuatan konstruksinya? Pertanyaan seperti itu muncul juga di video Flatearth101.

Kesalahan perbandingan tersebut adalah bahwa kondisi ruang yang DEKAT dengan permukaan bumi dengan ruang angkasa adalah sangat berbeda. Di ruang angkasa boleh dibilang tidak ada partikel2 udara yang akan menahan gerakan satelit saat mengelilingi bumi. Lain dengan gerakan pesawat atau roket yang pastinya menubruk partikel2 udara yang banyak di DEKAT permukaan bumi.

Itulah mengapa bentuk kendaraan atau wahana yang bergerak cepat di dalam udara harus disesuaikan agar aerodinamis, agar meminimalkan gesekan dan tahanan dari udara. Lain sekali dengan bentuk satelit dan wahana antariksa yang dirancang untuk bergerak di antariksa. Mereka tidak perlu memperhitungkan tahanan udara, karena memang tidak ada udara di atas sana.

Penjelasan di atas sekaligus menunjukkan betapa picik (atau licik) pembuat video bumi datar dalam menampilkan fakta dan menyerang kebenaran ilmiah serta kenyataan yang bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan.

yudisthira

says:

bukti lain tentang bumi datar adalah air, dimanapun ia berada dan bagaimanapun tempatnya, ia akan selalu rata, jadi tidak mungkin air ikut melengkung dengan lengkungan bumi.
gravitasi,..
dia tidak konsisten

says:

Air rata itu karena tertarik gaya gravitasi bumi. Jadi sebenarnya air itu TERLIHAT rata sampai jarak tertentu saja. Ia sebenarnya mengikuti lengkungan bumi. Namun karena bumi ini sangat besar hanya sebagian saja yang terlihat. Jadi, bukan berarti tidak konsisten. Hanya beda ruang lingkup.

Sama seperti permukaan bumi yang tampak datar pada taraf PENGLIHATAN manusia di permukaannya. Namun secara keseluruhan bentuknya adalah bulat.

Imam Pranadipa

says:

Terimakasih atas penjelasannya, kalau umat muslim masih percaya bumi datar, maka tidak ada bedanya kita mempercayai kitab orang kristen, alkitab.. dimana Galileo dihukum hanya karena pernyataannya bahwa bumi itu bulat bertentangan dengan isi alkitab cmiiw.. padahal Alquran itu adalah kitab yg menyempurnakan kitab terdahulu, yg mana alkitab yg dipegang oleh umat kristen saat ini bukanlah kitab yg sbenarnya diajarkan oleh nabi Isa AS..

Bahkan sudah ada lo orang muslim pertama yg pergi ke luar angkasa, dr negeri jiran Syeikh Muszaphar Sukhor, dan dia tidak mengamini bahwa bumi datar..

Lalu kenapa beberapa umat islam makin kesini makin tidak logis kebanyakan, ikut2an bodoh mengamini bumi ini datar..

Umat Islam saat ini dibuat bodoh oleh orang2 yahudi dengan membuat opini yg tidak jelas untuk diperdebatkan, agar Umat muslim tertinggal ilmunya, dan tidak ada lagi ilmuan2 muslim di dunia ini.. padahal orang2 yang membuat pencerahan di dunia pengetahuan pada saat masa kegelapan eropa adalah umat muslim.. karena org eropa yg dahulunya menolak ilmu pengetahuan, sama spt beberapa umat muslim sekarang yg menolak menerima ilmu pengetahuan dengan hanya dasar itu adalah konspirasi orang barat.. sekalian aja ga usah pakai mobil, pesawat, beli makanan yg pakai barcode, pakai spidol, dll, karena semua itu org barat yg menemukan.. org barat tidak ingin muncul kembali kekalifahan Utsmaniyah maupun abbasiyah.. dimana umat islam unggul dalam segalanya dibidang ilmu pengetahuan..

Tanda-tanda akhir zaman.. 🙂

Achmad Budiono

says:

Saya rasa jangan gegabah mengambil kesimpulan tanpa observasi yang mendalam. mengukur obyek di alam dengan berbagai kondisi dengan sudut derajat atau perhitungan geometric murni tidak akan menghasilkan pengukuran yang realitas sesuai fakta (matematisnya tidak salah, tapi variable-variabel yang lain tidak disertakan sehingga hasilnya tidak komplit), Banyak faktor yang akan mempengaruhi, seperti perspective, ilusi mata, ilusi optic, refraksi dll.. Coba anda observasi, jika di sekitar anda ada gunung yang jaraknya tidak lebih 50 km, gunung yang besar itu kadang bisa terlihat jelas dan sangat tinggi, kadang samar samar, bahkan kadang bisa hilang dari pandangan tergantung cuaca. Contoh sederhana, gambar anak panah dengan arah ke bawah, kemudaian ambil gelas berisi air letakkan di depannya, kenapa arah anak panahnya terlihat berbalik?, lagi, bikin gambar 2 buah lingkaran solid dengan ukuran sama, yang satu coba bikin lingkaran-lingkaran solid yang lebih besar mengelinginya, dan satunya lagi bikin lingkaran-lingkaran kecil mengelilinginya, suruh orang awam nebak tanpa melalui pengukuran, mana lingkaran yang lebih besar?, padahal lingkarannya sama.. coba ke kolam renang, lihat dasarnya kadang terlihat dangkal dari yang sebenarnya dll, dll.
Iya teori bumi bulat dari satu sisi masuk akal tapi banyak kontradiktifnya, sementara itu teori bumi datar tidak kalah logisnya bahkan banyak didukung fakta hasil observasi, meskipun masih belum sempurna. Kalau saya menilai yang satu gugur karena kontradiktif, yang satu belum jelas karena belum sempurna, atau dengan kata lain yang satu bohong, sedangkan yang satunya belum mengerti dan ingin mencari tahu. Kalau saya pilih adalah mencari tahu sampai titik nadir daripada percaya begitu yang sudah bohong, Ilmu Manusia itu terbatas, kalau sudah mencari tahu dengan (Iqra’) sampai titik nadir tidak berhasil juga, maka kita kembalikan ke ALLAH SWT yang Maha Tahu. Seperti kisah Nabi Ibrahim ketika mencari Tuhan-nya, tidak langsung Beliau menemukan kebenaran sampai Allah memberikan HidayahNya.

says:

Silahkan dibaca-baca lagi artikel di blog Alhabib ini terkait bumi datar. Kami coba menunjukkan kebohongan faham bumi datar. Semoga anda bisa menyimpulkan bahwa teori bumi datar itu amat jauh dari kenyataan.

Ilusi yang anda sampaikan tidak tergantung dengan bumi datar dan justru menunjukkan bahwa bumi datar hanyalah ilusi. Ilusi itu kan kelihatannya tidak seperti kenyataannya. Bumi datar hanyalah ilusi karena bumi amat luas dibandingkan dengan manusia yang melihat permukaannya. Permukaan bumi tampak datar, ilusinya datar, tetapi faktanya ia berbentuk bola yang amat besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *