Muadzin Yang Membuat Kesal Al-Biruni

Di awal abad ke-11, al-Biruni (Abu Rayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni), salah satu ilmuwan besar Islam, tidak bisa bersabar terhadap mereka yang merujuk kepada kitab-kitab fiqih atas permasalahan yang menurutnya merupakan permasalahan sains. Di dalam salah satu risalahnya, “Tentang Bayangan“, ia menyebutkan bahwa ada dua tipe muadzin. Yang pertama adalah muadzin yang berkutat dengan bayangan matahari, mengukur waktu menggunakan badannya sebagai pasak penanda bayangan, dan mengukur panjang bayangan dengan telapak kakinya. Yang kedua adalah muadzin dari orang kebanyakan (awam). Tipe kedua ini digambarkan oleh al-Biruni sebagai:

hatinya kesal saat disebutkan kata-kata bayangan, ketinggian atau sinus dan mereka bergidik saat melihat perangkat perhitungan atau alat-alat sains. Terhadap jenis kedua ini, seharusnya orang tidak lagi mempercayakan apapun kepadanya, terutama masalah penentuan waktu-waktu sholat. Bukan karena orangnya tidak bisa dipercaya, tetapi karena kejahilan mereka yang berlebihan.

Ilustrasi Abu Rayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni atau dikenal sebagai Al-Biruni. Salah satu ilmuwan besar Islam yang lahir di Beruni, Uzbekhistan tahun 973 M.

Ilustrasi Abu Rayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni atau dikenal sebagai Al-Biruni. Salah satu ilmuwan besar Islam yang lahir di Beruni, Uzbekhistan tahun 973 M.

Al-Biruni menceritakan bahwa sekali waktu ia berjumpa dengan seorang muazin yang marah karena perangkat “Astrolab” (asturlab, astrolabe) yang ia tawarkan untuk menentukan waktu sholat ditandai dengan simbol rasi zodiak yang melambangkan bulan-bulan (rumi) dalam kalender Kristen Suriah. Si Muadzin hanya ingin melihat bulan-bulan Islam tertera dalam astrolabe tersebut dan karenanya ia menolak membawa perangkat tersebut ke dalam masjid.

Perangkat multi-fungsi Astrolab (asturlab) yang populer di kalangan kaum muslimin sebagai alat penentu waktu sholat dan arah kiblat.

Perangkat multi-fungsi Astrolab (asturlab) yang populer di kalangan kaum muslimin di abad pertengahan sebagai alat penentu waktu sholat dan arah kiblat.

Al-Biruni kemudian berkata kepadanya: “Orang kristen juga makan dan berjalan di pasar; jangan meniru mereka dalam dua hal itu juga.” Saat si Muadzin tetap tidak bisa melihat inti pendapatnya, al-Biruni mengatakan bahwa dia memiliki penyakit yang belum ada obatnya. Si Muadzin – karena merasa dalam masalah dan takut tertular – langsung memecahkan astrolab tersebut.

Pada bagian lain dalam risalahnya, al-Biruni membahas pengetahuan falakiyah apa saja yang dibutuhkan bagi seorang muadzin, dan memberikan tekanan kepada pentingnya astronomi bola dan pengamatan yang cermat.

Diambil dari:
ON THE ROLE OF THE MUEZZIN AND THE MUWAQQIT IN MEDIEVAL ISLAMIC SOCIETY. 1996. David A. King

Leave a Reply