Vaksin Tidak Dikenal Di Fakultas Kedokteran Umum, Benarkah?

Vaksinasi atau imunisasi merupakan salah satu topik yang cukup hangat dibicarakan oleh para aktivis muslim, termasuk Ustadz dan Kiai. Pembicaraan yang dibahas biasanya seputar bolehkah imunisasi bagi umat islam. Namun tak jarang, pembahasan vaksin ini terbiaskan oleh pandangan yang dipengaruhi oleh hoaks, kabar burung, teori konspirasi, kecurigaan berlebihan terhadap orang di luar islam, atau kesalahfahaman dalam mencerna informasi.

Berikut ini adalah salinan dari salah satu pos pengarang buku “Pro Kontra Imunisasi”, dr. Arifianto yang menanggapi fenomena anti-vaksinasi semacam di atas:

“Vaksin itu tidak dikenal di fakultas kedokteran umum, dikenalnya di fakultas kedokteran hewan!”

Seorang Ustadz menyampaikan kalimat ini dengan berapi-api. Nada bicaranya tegas. Bersemangat. Meyakinkan hadirin di sekitarnya. Tidak ada keraguan dalam intonasinya. Videonya tersebar luas di media sosial, khususnya berbagai grup Whatsapp, dalam beberapa hari terakhir. Jujur, saya agak geli menyaksikannya. Jelas-jelas ini adalah pernyataan yang salah. Diutarakan dengen penuh keyakinan. Padahal faktanya: berkebalikan 100%. Kami lulusan pendidikan dokter belajar tentang vaksin dan Imunisasi sejak masih mahasiswa “pra-klinik”. Ketika memasuki fase ko-asistensi atau profesi dokter, para dokter muda mempelajarinya lagi, salah satunya ketika menjalani rotası di bagian Ilmu kesehatan anak. Saya sendiri kebetulan juga mendidik para dokter muda mahasiswa sebuah FK swasta di Jakarta. Ketika ujian di akhir masa kepaniteraan klinik bagian anak, pertanyaan-pertanyaan terkait Imunisasi tidak akan luput saya ajukan, selaku penguji.

“Jadi yang namanya dokter-dokter, nggak usah belagu lu, sama nggak tahunya kaya gua. Yang ngerti vaksin itu adalah anak-anak fakultas kedokteran hewan!” Pembicara tunggal di video yang entah diambil kapan itu, tidak jelas oleh siapa, tanpa keterangan tanggal dan tahun, kembali menambahkan. Lagi-lagi dengan nada tanpa keraguan. Kesimpulannya adalah: ustadz ini sudah memberikan informasi yang salah. Kami para dokter paham vaksin.

Saya sudah mengangkat masalah ini tiga hari lalu, tetapi saya hilangkan karena saya nilai lebih banyak muatan kontradiktifnya, akibat status yang saya buat. Dua hari lalu saya buat status tambahan di sini: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10213919798423504&id=1665521761&ref=bookmarks, dengan harapan dapat lebih menengahi. Tetapi hari ini saya putuskan untuk membuat tulisan yang khusus mengklarifikasi satu demi satu pernyataan yang disampaikan sang Ustadz, mengingat pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke saya, dan berharap agar masyarakat langsung mendapatkan jawaban atas keraguan yang timbul. Maka bentuknya adalah poin-poin pernyataan pembicara dalam video tersebut, dan tanggapannya secara ilmiah. Mohon maaf apabila ada kutipan yang kurang lengkap tertulis semuanya, dengan maksud untuk mempersingkat kalimat.

1. “Vaksinasi adalah operasi depopulasi, agar orang tidak punya kemampuan berpikir…” Kurang lebih ini pernyataan di awal video. Tanggapan saya: salah satu hoax yang tersebar tentang vaksin adalah vaksin berisi kandungan zat kimia untuk membuat orang yang mendapatkannya menjadi mandul. Faktanya: tentu saja ini tidak benar. Vaksin isinya adalah zat aktif berisi virus, bakteri, toksin, atau komponennya, yang bertujuan membentuk kekebalan spesifik terhadap penyakit tertentu. Ada bahan-bahan tambahan lain, seperti dijelaskan pada gambar 1, tetapi tidak satupun kandungan bahan pembuat mandul manusia 😅. Kita adalah generasi yang tumbuh dengan imunisasi lengkap, dan lihatlah berapa banyak keturunan yang sudah kita hasilkan 😊. Alhamdulillah… Jadi jelas ya, tidak ada hubungan antara vaksin dengan depopulasi.

2. “Zaman sekarang, anak umur 3 tahun ada yang gagal ginjal. Anak umur 2,5 tahun ada yang sakit jantung kronis. Anak umur 4 tahun sakit gula. Aneh bin ajaib!” Tanggapan saya: apakah semua penyakit ini karena vaksin? 😓 Harus ada bukti ilmiah yang menunjukkan adanya korelasi atau hubungan sebab-akibat (kausalitas) antara vaksin dengan: penyakit gagal ginjal, “sakit jantung kronis” (saya kasih tanda kutip karena istilahnya tidak standar), dan “sakit gula” (lagi-lagi tanda kutip). Sebagai dokter spesialis anak, jawabannya saya singkat: tidak ada hubungan antara vaksin dengan semua penyakit yang disebutkan ini. Gagal ginjal pada anak? Paling sering karena penyakit-penyakit yang tergolong jarang, seperti uropati obstruktif, ginjal hipoplastik, nefropati, sindrom nefrotik yang biasanya tidak mempan dengan steroid, dan penyakit ginjal polikistik. “Sakit jantung kronis”? Apakah maksudnya? Gagal jantung karena penyakit jantung rematik? Penyakit jantung bawaan dengan ratusan varian yang kemudian berlanjut jadi gagal jantung? Atau apa? Tidak satupun ada kaitannya dengan vaksin. “Sakit gula”? Maksudnya diabetes mellitus tipe 1 pada balita? Ini jelas nggak ada hubungannya dengan vaksin 😅

3. “Orang-orang miskin, orang-orang susah, sakitnya aneh-aneh, karena dirusak oleh injeksi vaksin, berisi tripsin saripati anjing, monyet, babi.” Tanggapan saya: mengapa menghubungkan antara “sakit aneh” dengan “orang miskin dan susah”? Bukankah semua orang, baik miskin atau kaya, bisa sakit yang “aneh-aneh”? Tidak berhubungan dengan strata ekonomi, dan dihubungkan dengan vaksin (lagi-lagi) (?)

Baik, saya akan jelaskan sekilas tenting tripsin. Saya ambil sebagian dari https://www.kompasiana.com/…/mengenal-peranan-tripsin-dalam…
Tripsin adalah protein yang secara alami dihasilkan di pankreas hewan, termasuk manusia (ingat pelajaran IPA SD, atau biologi SMP?). Tripsin memiliki fungsi utama dalam proses pencernaan makanan, utamanya protein. Di sisi lain, seiring perkembangan Ilmu kimia dan biologi, tripsin diketahui dapat menjadi bahan TAMBAHAN dalam pembuatan SEBAGIAN KECIL vaksin. Jadi BUKAN bahan utamanya (lihat lagi kandungan vaksin di gambar 1). Tripsin terlibat HANYA pada tahap-tahap awal pembuatan produk SEBAGIAN vaksin, utamanya pada tahap penumbuhan mikroba. Prosesnya cukup panjang dan tidak dijelaskan di sini, tetapi singkatnya: Tripsin bisa mengkatalisis atau menstimulasi proses pertumbuhan mikroba dalam media sehingga hasil yang didapatkan bisa lebih banyak dalam waktu yang relatif lebih singkat. Selain menjadi katalisator pertumbuhan bahan aktif, tripsin juga memiliki peranan lain dalam produksi vaksin. Di antaranya mencegah pelekatan sel-sel bakteri atau virus dari tempat penumbuhan selama proses pengkulturan. Tripsin juga bisa menstimulasi kultur virus/bakteri sehingga sifat pemicu imunnya bisa diaktifkan. Tulisan lain di https://seruji.co.id/…/peran-enzym-tripsin-babi-dalam-pros…/menambahkan bahwa tripsin mempercepat proses produksi vaksin dengan cara memecah protein menjadi peptida dan asam amino, yang merupakan “makanan” bagi kuman yang akan dibiakkan, sehingga kuman/mikroba akan cepat tumbuh. Enzim (tripsin) tersebut tidak dimakan oleh kuman, dan TIDAK TERLIBAT dalam proses selanjutnya. Gambar 2 menjelaskan lebih rinci hal ini. Ibaratnya enzim ini berfungsi sebagai GUNTING untuk memotong protein menjadi asam amino dan peptida, dan “gunting” tersebut tidak dimakan. Proses panjang pembuatan vaksin dijelaskan singkat di gambar 4.

Masalah yang muncul adalah: tidak banyak jenis tripsin yang bisa digunakan untuk proses pembuatan vaksin, antara lain tripsin babi (porcine) dan sapi (bovine). Tripsin babi adalah yang paling banyak digunakan, karena sudah terbukti menghasilkan produk akhir vaksin yang efektif mencegah penyakit. ingat, salah satu syarat vaksin adalah EFEKTIF mencegah penyakit. Kalau tidak efektif, maka tidak akan lolos menjadi vaksin. Maka seluruh proses pembuatannya harus teruji berkualitas. penggunaan tripsin porcine ini pun sangat ketat, seperti diatur dalam pandan berikut: http://www.ema.europa.eu/…/Scientif…/2013/03/WC500139532.pdf.

Pertanyaan berikutnya: vaksin apa saja yang menggunakan tripsin babi sebagai katalisator dalam proses AWAL pembuatan vaksin? (Dan di hasıl produk akhir sudan TIDAK TERDETEKSI kandungan tripsin ini) Saat ini, ada 16 VAKSIN yang masuk dalam program imunisasi rutin bagi anak, menurut jadwal dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Saya sebutkan: hepatitis B, polio, BCG, DPT, Hib, campak/MR, PCV, rotavirus, influenza, varisela/cacar air, hepatitis A, tifoid, MMR, HPV, Dengue, dan Japanese ensefalitls (JE). Dan dari seluruh vaksin ini, yang menggunakan tripsin porcine adalah polio dan rotavirus saja.

Bagaimana hukumnya, meskipun HANYA 2 vaksin ini saja? Beruntunglah MUI sudah mengatur hal ini dalam fatwanya nomor 4 tahin 2016, yang bisa diunduh di sini: http://www.searo.who.int/…/fatwa_no.4_tentang_imunisasi.pdf… Kutipan fatwa yang saya tunjukkan di gambar 3 menunjukkan bahwa BOLEH menggunakan vaksin yang mengandung bahan haram dan/atau najis, selama belum ada penggantinya. Dan kondisinya memang darurat, mengingat bukti banyaknya kematian akibat penyakit polio sejak sebelum vaksin ini ditemukan di tahun 1960-an, dan penyakit diare skibat rotavirus masih menempati dua urutan teratas penyebab kematian pada anak akibat penyakit infeksi. Tentunya kondisi darurat tidak boleh berlangsung sepanjang masa. Para ilmuwan Sedang berupaya menciptakan vaksin yang seluruh bahannya halal dan thoyyib, tetapi juga hasil akhirnya aman dan efektif. Kita doakan semoga para ilmuwan kita segera berhasil mengembangkannya. Atau kita jadikan anak-anak kita generasi ilmuwan masa depan.

4. “Protes tentang imunisasi, pemerintah akan menjawabnya dengan simulasi yang berbeda, dengan istilah yang tidak mudah dipahami.” Tanggapan saya: sejak tahun 2007, saya sudah berurusan dengan hal-hal terkait pro-kontra imunisasi (jejak digital saya ada di www.arifianto.blogspot.com). Di tahun 2014, buku saya setebal 300 halaman berjudul “Pro Kontra Imunisasi” terbit. Saya mewawancarai beberapa narasumber layaknya seorang wartawan investigatif saat menulis buku ini. Di tahun 2017, saat kampanye imunisasi MR yang menimbulkan kontroversi luar biasa di masyarakat, saya berinteraksi dengan banyak orang, termasuk pemerintah dan berbagai kelompok masyarakat, baik yang setuju maupun tidak setuju imunisasi. Saya dan kawan-kawan mencoba mengedukasi imunisasi dengan bahasa yang sebisa mungkin dipahami masyarakat. Tidak dengan “istilah yang tidak mudah dipahami”. Banyak kawan saya yang tidak punya latar belakang medis sama sekali, bahkan lebih mumpuni ilmunya tentang vaksin dibandingkan sebagian tenaga kesehatan. Lihat saja kawan-kawan di grup GESAMUN yang kalau tidak salah berdiri sejak tahun 2012. Mayoritas bukan dokter, tapi mampu menjawab berbagai pertanyaan masyarakat seputar imunisasi. Dan kalau bicara “pemerintah”, maka saya bukanlah seorang pegawai negeri sipil. Saya seorang dokter anak muslim yang punya tanggung jawab profesi dan edukasi bagi masyarakat. Maka ketika pembicara di video tersebut menyatakan kesan ia mendapatkan istilah-istilah yang sulit dipahami ketika mencoba mempelajari vaksin, maka ketahuilah, ia tidak dapat menggeneralisir hal tersebut. Sangat banyak masyarakat awam yang sangat paham tentang vaksin, bahkan bisa mengajarkannya pada yang lain.

5. “Ibu-ibu, ibu-ibu jangan lupa, hari Rabu anaknya ke Posyandu untuk diimunisasi!” Lalu ia melanjutkan, “dari masjid anak-anak muslim diserukan agar ke Posyandu, kenapa dari gereja tidak ada?” Ditambahkan lagi, “Apakah kamu dari gereja ada perintah untuk datang ke Posyandu? Pak, kami dilarang untuk datang ke Posyandu. (Pendeta bilang jangan ke Posyandu?)” Tanggapan saya: benarkah faktanya seperti ini? Haduh, sepertinya tidak deh 😓 Anak-anak yang diimunisasi, baik di Posyandu, Puskesmas, klinik, dan RS, berasal dari berbagai latar agama. Tidak hanya muslim saja. Saya praktisi lapangan. Saya yang mengimunisasi anak-anak! Baik anak dari orangtua muslim, Kristen, Hindu, dan Budha. Maka lagi-lagi, pernyataannya tidak sesuai fakta. Saya tambahkan lagi: apakah fungsi Posyandu hanya untuk imunisasi saja? Tidak, jelas tidak! Posyandu adalah tempat bayi sejak lahir dipantau tumbuh kembangnya. Dideteksi dini apabila ada kelainan perkembangan, atau gangguan pertumbuhan. Posyandu bertujuan membentuk generasi muda yang sehat dan berkualitas! Jangan sampai ada lagi anak-anak dengan gizi buruk atau stunting, karena sudah “ditangkap” dan ditangani sejak di Posyandu. Kita tidak menginginkan generasi mendatang adalah generasi lemah “perusak” umat dan bangsa ini kan?

6. “Umat Islam nggak mau mikir. Dikasitau begini, nggak cari solusi, malah marah sama yang ceramah…” Saya tanggapi: Alhamdulillah kami umat Islam masih banyak yang mau berpikir. Kami paham bagaimana pengambilan ilmu dari sumber yang “sahih” dan menghindari referensi hoax untuk masalah-masalah keilmuan. Dan kami nggak marah kok, Ustadz 😊

7. “Saya tidak mengada-ada. Rugi buat saya, bahaya buat saya, dianggap menjelekkan dan mencemarkan program pemerintah. Tapi ini adalah program yang merusak rakyat! Coba lihat yang sakitnya aneh-aneh. Yang sakit aneh-aneh, pasti pribumi.” saya tanggapi: lagi-lagi ini tidak benar ya. Terlepas dari program pemerintah atau bukan, maka kami yang memberikan imunisasi lengkap untuk anak-anak kami adalah yang paham benar manfaat vaksin untuk MENCEGAH berbagai penyakit mematikan. Ini bagian dari ikhtiar kami, yang didukung oleh pemahaman agama yang baik juga. Dan saya tegaskan lagi, seperti penjelasan di atas: tidak ada hubungannnya antara penyakit “aneh-aneh” tersebut dengan vaksin.

8. “Jadi yang namanya tripsin itu adalah zat yang diambil dari saripati darah narapidana, pelacur, dan virus yang dijinakkan, yang digabung jadi satu, dan digabungkan dalam yang namanya vaksin!” saya tanggapi: sudah saya jelaskan di atas, dan jelas sekali ini adalah pemahaman yang salah. Semoga kabar bohong tidak terus menyebar di masyarakat, padahal jelas-jelas bohong 100%.

Dan di akhir video, narasumber membahas tentang “pandangan” masyarakat tentang zina yang dianggap lebih lazim dibandingkan dengan beristri lebih dari satu, dan anak-anak umat Islam yang hanya boleh dua, sedangkan umat lain anaknya banyak, mungkin masih dalam konteks membahas dan menghubungkannya dengan vaksin.

Demikian yang bisa saya jelaskan. Sekali lagi saya tegaskan bahwa saya tetap menghormati beliau sebagai seorang tokoh agama, Ustadz, dan mujahid dakwah yang sudah banyak berjuang mengingatkan masyarakat akan bahaya komunisme. Saya juga mendoakan agar beliau segera mendapatkan kebebasan, dan jika Allah berkehendak, kami bisa berjumpa dan bertatap wajah membahas masalah ini, yang pastinya di luar keilmuan beliau. Video tersebut juga tidak jelas kapan diambilnya (tapi dari penjelasan narasumber adalah di Lamongan, Jawa Timur). Dan mungkin saja beliau sudah berubah pandangannya tentang vaksin, tapi saya yang mungkin belum mengetahuinya. Sekian.

Arifianto, penulis buku “Pro Kontra Imunisasi”, “Orangtua Cermat Anak Sehat”, dan “Berteman Dengan Demam”

(Gambar-gambar diambil dari slide presentasi saya, dan foto sampul buku Pro Kontra Imunisasi)

Sumber: dr. Arifianto Apin

Leave a Reply