Akar Kata Kalender itu Ternyata Praktek Rukyatul Hilal

Baru saja membaca sebuah artikel tentang sejarah kalender atau sistem penanggalan yang dipakai manusia sepanjang masa. Salah satu yang menarik adalah bahwa dahulunya, kebanyakan kebudayaan di dunia itu memakai penanggalan qomariyah atau kalender berbasis pergerakan bulan tidak seperti kalender masehi sekarang.

Nama bulan saja memang kata yang merujuk kepada benda angkasa yang menjadi satelit bumi bernama bulan itu. Di dalam bahasa inggris: month sangat erat dengan moon.

Bulan sabit dalam sebuah relief bangsa kuno.
Bulan sabit dalam sebuah relief bangsa kuno.

Kata kalender sendiri berasal dari kebiasaan dalam bangsa Romawi di era abad ke-8 sebelum masehi. Para pendeta besar mereka biasa menjadi rujukan dalam menentukan awal bulan atau tahun. Setiap bulan para pendeta ini melihat kapan bulan sabit (hilal) muncul untuk menetapkan masuknya bulan baru. Mereka melaporkan pengamatan tersebut (rukyatul hilal) kepada raja. Setelah itu diumumkanlah kepada khalayak akan masuknya bulan baru. Proses pengumuman ini berlangsung hingga berabad-abad di Roma dan mereka menyebut hari pertama bulan baru tersebut sebagai KALENDS atau Kalendae yang berakar dari kata calare (mengumumkan, memberitahukan). Dari tradisi inilah kata kalender berakar.

Tidak hanya orang Romawi yang mempraktekkan rukyatul hilal untuk menentukan kalender, orang Celtiks dan Jerman di Eropa serta Babilonia dan Yahudi juga melakukan hal serupa: melihat kapan muncul bulan sabit di awal bulan.

Maha Benar Allah yang telah menginformasikan kepada kita bahwa:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram…”

[At Taubah (9): 36]

Rujukan: Other Ancient Calendars

Leave a Reply