Menyikapi [Kemungkinan] Perbedaan Idul Fitri 1432 H di Indonesia

Alhamdulillaah, di penghujung Ramadhan 1432 H ini, banyak sekali diskusi mengenai perbedaan pelaksanaan Idul Fitri 1432 H alias penetapan 1 Syawal 1432 H yang kemungkinan besar akan berbeda. Perbedaan semacam ini tentunya akan menimbulkan sedikitnya tanda tanya di kalangan masyarakat awam. Bagi mereka yang peduli dengan ukhuwah atau persatuan umat islam, pertanyaan itu akan semakin besar. Kapankah kaum muslimini di negeri ini bisa bersatu?

Umat islam adalah umat yang satu, berhari raya satu, tetapi tidak jarang melakukan perayaan di hari yang berbeda. Ironis.

Lalu, bagaimana kita mesti menyikapi hal semacam ini? Berikut adalah cuplikan tulisan dari Ust. Hatta Syamsudin yang bertajuk: Inilah Alasan Saya Berlebaran Mengikuti Pemerintah.

Sumber Perbedaan

Potensi perbedaan yang ada berkutat antara tanggal 30 Agustus dan 31 Agustus saja, dengan ragam metode yang digunakan. Muhammadiyah misalnya dengan metode hisab dan kriteria wujudul hilal, jauh-jauh hari telah mengumumkan Idul Fitri 1432 H jatuh pada Selasa 30 Agustus. Ormas Persis menyusul kemudian, dengan metode hisab tapi dengan kriteria imkanurrukyah, mereka mengumumkan Idul Fitri 1 Syawal  jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011. NU yang memiliki metode rukyatul hilal versi lokal (ikhtilaful mathla’), tentu menunggu Senin malam 29 Agustus untuk memutuskan kapan berhari raya, meskipun di dalam NU juga banyak pakar hisab yang siap ‘legowo’ menerima kriteria imkanurrukyat. Beberapa ormas seperti HTI yang biasa mengikuti rukyah global  di Saudi, juga akan menunggu keputusan ulama Saudi Senin malam inysa Allah. Meskipun jika dilihat secara penghitungan (hisab), -baik di Indonesia maupun Saudi – maka hilal kemungkinan besar tidak akan terlihat sehingga Ramadhan akan digenapkan menjadi 30 hari, dan lebaran pada 31 Agustus 2011.

Lalu bagaimana dengan pemerintah ? Sejak awal pemerintah melalui Kemenag dan MUI akan menyelenggarakan sidang itsbat pada akhir Ramadhan, untuk menentukan 1 syawal 1432. Metode yang digunakan pemerintah adalah menggabungkan antara hisab dan rukyatul hilal. Maka berkaca dari pengalaman sebelumnya, hisab dan serta hasil rukyat (yang diprediksi tidak akan terlihat), hampir bisa dipastikan keputusan pemerintah 1 Syawal 1432 akan jatuh pada 31 Agustus 2011.

Menyikapi Perbedaan Lebaran

Tidak dipungkiri lagi perbedaan Hari Raya sedikit banyak akan mengurangi syiar ukhuwah dan persatuan umat Islam. Sementara secara dalil dan filosofisnya, idul fitri adalah hari Raya kaum muslimin yang semestinya memperlihatkan ukhuwah dan persatuan yang luar biasa.  Berhari raya bersama banyak orang adalah salah satu anjuran syariah kita, bukan dengan sedikit orang apalagi segelintir orang.  Riwayat hadist dari Abu Hurairah menyebutkan, Rasulullah SAW bersabda : “ Puasa adalah hari dimana kalian (orang-orang) berpuasa, dan hari raya berbuka (idul fitri-red) adalah hari dimana kalian (orang-orang) berbuka  (dan berhari raya )“. (HR Tirmidzi dishahikan oleh Albani). Sebagian ulama menafsirkan hadits di atas dengan kesimpulan: “ bahwa berbuka dan berhari raya itu (haruslah) bersama-sama jama’ah dan sebagian besar (orang-orang) kaum muslimin.

Selain itu, beberapa hadits seputar Idul Fitri mengisyaratkan bahwa lebaran adalah ibadah yang merupakan syiar dan simbol, dimana kebersamaan dan ukhuwah menjadi ciri khususnya. Lihat saja bagaimana tentang anjuran sholat di lapangan yang besar, juga anjuran untuk mengajak para wanita bahkan sekalipun mereka dalam kondisi haid ! Ini menunjukkan salah satu semangat dalam beridul fitri adalah mengoptimalkan kebersamaan.

Karenanya, jika ada perbedaan dalam penentuan idul fitri, maka yang paling banyak diikuti dan bisa menunjukkan syiar dan ukhuwah Islam itulah yang layak untuk diikuti, dalam hal ini bisa diwakili dengan keputusan pemerintah yang biasanya diikuti sebagian besar kaum muslimin di Indonesia.

Jadi, Idul Fitri dan hari raya umat islam sebenarnya adalah hari kebersamaan. Pemerintah seharusnya lebih tegas menjalankan fungsinya sebagai hakim, penghilang perbedaan. Sementara itu para komponen ormas islam, lebih legowo, bisa menerima keputusan sang hakim demi persatuan umat dan tidak menetapkan 1 Syawal mendahului keputusan pemerintah yang sama-sama kita angkat dan sepakati.

Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.

12 komentar untuk “Menyikapi [Kemungkinan] Perbedaan Idul Fitri 1432 H di Indonesia”

  1. iya ya mengapa Muhammadiyah kadang selalu dipojokkan?
    Meluruskan arah kiblat ditentang, tapi akhirnya diikuti.
    Mendirikan sekolah, rumah sakit, universitas, panti asuhan, lembaga ekonomi kadang juga dicibirkan.
    Tapi kok kemudian lembaga-lembaga lain juga mengikuti.
    Pada hal setahu saya Muhammadiyah tidak pernah memaksa orang untuk masuk menjadi anggota Muhammadiyah. Sebaiknya kita sebagai umat Islam belajar tentang Muhammadiyah,, walaupun kita bukan anggota Muhammadiyah.

  2. memang nya pemerintahan kita islami apa? berpedoman kepada alquran dan hadist , saya rasa wajar bila ada perbedaan lha pakai hukumnya juga bukan hukum islam mau bagaimana lagi walaupun ada persatuan majelisnya ulamanya , menteri agama kan dibawah kewenangan presiden, klo presidennya mau lebaran lebih cepat/ lambat tinggal perintah pada kenyataanya saya sejak dari saya kecil berpuasa ikut pemerintah selalu 30 hari belum pernah 29 hari lho. walaupun bulan hilalnya jelas …………tetap 30 hari puasanya……….. sekarang yakin aja deh syawal ikuti dari awal rahmadhannya klo ikut pemerintah ya.. yakini makanya kita harus punya pemimpin yang bertanggung jawab sama umatnya jadi jelas……

  3. Pemerintah yang mana?????pemerintah koruptor ala SBY yang menzolimi umat serta doyan menistakan Islam???
    Apa dasar Habib menyuruh umat ikut pemerintah??
    Memangnya kita sudah menegakkan syariat Islam sebagai dasar negara??
    Apa Habib pikir SBY itu Khalifah???
    Umat Islam bersatulah…tegakkan Islam sesuai Al Quran Al Hadits dan tirulah selalu Rasul SAW

    1. Lalu siapakah khalifah umat islam sekarang ini? Kita umat islam di Indonesia. Paling tidak untuk sementara ini, pemerintah negara inilah ulil amri kita bukan?

  4. hanif kimia - moslem alchemist

    sya jga ikut pemerintah. setelah membaca majalah as-sunnah. sukran infonya

  5. saatnya kita untuk bijaksana, bukan saling menyalahkan, apalagi mengedepankan ego. seperti halnya mempelajari Islam harus utuh, mempelajari diri sendiri, orang lain, golongan lain, termasuk negara lain pun harus utuh. Di hari yang fitri ini, marilah kita kembali ke fitrah kita sebagai manusia, yakni 1) sebagai makhluk karena qadla dan qadarnya Allah SWT, 2) sebagai pengemban tugas beribadah kepada Allah SWT dan menebarkan rahmat untuk seluruh alam.

  6. PERBEDAAN INI BUKAN RAHMAT, TETAPI KEMUNDURAN UMMAT ISLAM INDONESIA … kalau tidak ada NIAT BAIK, KEJUJURAN dan KEMAUAN UNTUK BELAJAR DARI NEGARA2 ISLAM LAINNYA di hati para tokoh yg mewakili masing2 kelompok yg berbeda pandangan, SELAMANYA AKAN BERBEDA. Buat apa perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kualitas pendidikan sumberdaya manusia ummat islam indonesia …. serahkanlah perhitungan waktu itu kepada ahlinya, kita sudah punya banyak pakar yg kompeten untuk urusan itu.

  7. putera diponorogo

    Bib di arab tanggal 30 koq, Jadi kiblat kita ke Mekkah atau ke Istana?
    ini ane copas dari blog tetangga:
    Sejauh yang saya tahu prinsip rukyat justru menggunakan pendekatan “veto positif” bukan suara terbanyak. Maksudnya, bila ada satu orang saja berhasil melihat hilal – meski ada ribuan orang lain tidak melihat hilal – maka kesimpulannya adalah sudah masuk lebaran.<<<< udah jelas gitu koq

    Atau ini contoh demokrasi/politik yang salah tempat..voting!! yang banyak yang menang 🙁 .

  8. berbeda kok bangga?? aneh!!! justru sharusnya indonesia blajar dari negara2 lain, kenapa mereka bisa serempak dalam memutuskan kapan lebarannya…
    heran sm indonesia.. !!!

    1. Betul bung ! saya setuju kalau ntuk kabinet mendatang Menteri Agamanya di ambil dari Muhammadiyah. Tapi apa mungkin ? soalnya Muhammadiyah hanya dipandang sebagai minoritas dan tidak menguntungkan secara polotis bagi penguasa.

  9. kalau menurut saya,,,dengan perbedaan kita belajar ber toleransi dan perbedaan itu adalah indah ,,,tapi yg sebenar nya kita butuh kesepakatan antara pemuka agama atau mentri,,,karna yg di tunggu dr masyarakat adalah kesepakatan ulama dan mentri agama,,,

Leave a Reply