Belajar dari “Bumi Datar”: Benci Boleh, Bodoh Jangan

Berikut ini adalah kisah yang dituturkan oleh salah seorang di linimasa Facebook tentang pengaruh kepercayaan Flat Earth (paham Bumi Datar) yang ternyata sudah sampai ke para tukang ojek di masyarakat.

***

Tadi saat pulang dari tempat bekerja (6 Januari 2017) saya menggunakan jasa ojek online (Grab Bike), karena usai hujan dan hari ini hari Jumat agak sulit langsung mendapatkan ojek yang tersedia. Setelah beberapa kali melakukan order, akhirnya saya mendapatkan driver dengan nama Bapak H, sebut saja demikian.

Saya lihat ia memakai helm warna keemasan (gold) yang artinya ia adalah salah satu driver terpilih tersebab prestasi mendapatkan banyak penumpang dengan rating bintang 5. Bapak H menyapa saya dan kami meluncur membelah jalanan yang basah.

Seperti biasa terjadi percakapan saya dan tukang ojek, dalam hal ini Bapak H. Semula ia mengeluh soal kenaikan tarif STNK, dan saya amini bahwa kebijakan tidak populer itu tidak pas untuk situasi awal tahun baru. Lalu ia juga mengkritisi habis soal kebijakan Jokowi yang akan menaikkan harga BBM dan TDL. Ia sempat berucap, ”Jokowi harus direvolusi!” Saya tanya caranya bagaimana? Ia bilang people power. Seperti aksi demo bela Islam. Boleh juga pemikiran Bapak H ini.

Diskusi ini sesekali diselingi teriakkan karena kecepatan motor dan desiran angin yang membawa suara. Saya setuju dengan pendapat kenaikkan tarif STNK, BBM, harga cabe dan TDL adalah suatu kebijakan yang tidak pro rakyat. Namun semua hal itu berubah ketika kami ganti topik pembicaraan.

Ia tiba-tiba berujar ke saya, ”Pak, Bapak percaya bahwa bumi ini datar?” Saya agak terperangah dengan pertanyaan itu. Saya balik bertanya, ”Bapak percaya?” Dan dengan sangat yakin ia menjawab bahwa bumi ini datar, bahwa bumi yang kita tempati ini adalah suatu ruang datar. Bahkan ia menambahkan, dalam Al-Quran, tidak ada penjelasan bahwa bumi ini bulat! Saya istighfar dan masih sambil di atas motornya yang melesat di jalanan macet, saya membantah tentang teori bumi datar.

Namun semua teori yang saya ungkapkan ia bilang adalah ilmu atau pengetahuan dari dunia barat (bukan Islam, untuk tidak mengatakan pengetahuan Kafir Yahudi). Saya miris sekaligus geram.

Akhirnya saya yang tadinya slow dengan teori bumi bulat mulai mencecar dia dengan pertanyaan:

1. Kalau bumi ini datar, sekarang ini malam dan gelap. Terang apabila siang dan ada matahari. Di manakah posisi matahari saat malam? Dia diam.

2. Kalau bumi ini datar, kenapa kiblat umat muslim menghadap ke Barat di mana dari Indonesia posisi Kabah (Mekkah) berada di sana. Dan ketika kita berada di Kabah, kita salat mengelilingi kabah? Tidak membentuk saf panjang? Dia diam.

3. Kalau bumi ini datar, kenapa para pelayar atau pelaut tidak pernah jatuh di penghabisan atau di ujung bumi yang datar, tapi ia bisa kembali ke titik awal saat ia berlayar? Dia diam.

4. Kalau bumi ini datar, kenapa kita melihat bulan bulat sempurna saat bulan purnama? Dia diam.

5. Kalau bumi ini datar, kenapa manusia-manusia yang pernah ke bulan atau luar angkasa tidak pernah mengatakan bahwa bumi itu datar sebagaimana penglihatan mereka dari bulan atau luar angkasa? Dia jawab. Karena yang ke bulan itu orang-orang KAFIR dan KOMUNIS!
Nah, di sini saya langsung menepuk pundak dia dengan cukup keras dan kebetulan saat itu kami sudah sampai ke tujuan, sambil turun saya berkata dengan cukup tajam:

”Pak, kita boleh membenci Jokowi, Ahok, Asing, Aseng, Kafir, Komunis, Liberal dan Yahudi, tapi tolong kita jangan jadi GOBLOK seperti Bapak saat ini!”

Sepertinya ia akan menyanggah, tapi saya keburu bayar ongkos dan memberikan uang lebih sembari saya berkata lagi,”Apabila Bapak masih cinta sama Islam dan Al-Quran yang penuh dengan kajian-kajian keilmuan, percayalah bahwa BUMI ITU BUNDAR!”

Semoga setelah diceramahi saya tentang BUMI BUNDAR, Bapak H ini kembali ke jalan yang benar. Jalanan saja ada yang belok-belok, berliku-liku, turun naik. Mengapa bumi harus datar? Mikir!

Saat menulis status ini, saya merenung betapa dahsyat ceramah-ceramah tentang teori Bumi Datar yang dikumandangkan di majelis taklim yang Bapak H ikuti ini dan betapa terbodohinya para pengikutnya, betapa ternyata banyak yang jadi GOBLOK karena pengetahuan tentang bumi bundar bersumber dari para pemikir-pemikir Barat (Kafir) yang mereka BENCI. Benci boleh tapi jangan jadi GOBLOK! Dan hal ini saya kira yang diembus agar umat (manusia) di Indonesia khususnya kaum muslim di Indonesia terpecah untuk berdebat hal yang tidak perlu.

Setelahnya saya memberikan ia, Bapak H itu rating bintang 5, karena mengendarai motor dengan jatmika dan mengantar saya dengan aman dan selamat sampai tujuan. Tak lupa di kolom komentar untuk Grab Bike saya tuliskan: ”Semoga bapak diberi hidayah utk tdk percaya bahwa bumi ini datar. Aamiin.”

 

Related tags:

benci boleh bodoh jangan; benci boleh goblok jangan; driver ojek flat earth;

Spread the love

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *