Dasar Ilmiah Penentuan 1 Syawal 1432 H

Pemerintah Indonesia telah menetapkan 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus 2011. Keputusan ini berdasarkan pengamatan Hilal (rukyatul hilal) dari puluhan titik di seluruh wilayah indonesia yang tidak melihat Hilal. Dua klaim dilihatnya Hilal (bulan sabit) dari Cakung dan Jepara ditolak.

Sementara itu, Arab Saudi mengumumkan bahwa 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011. Keputusan ini berdasarkan klaim dilihatnya bulan sabit di wilayah itu. Keputusan ini kemudian banyak diikuti oleh banyak negara-negara lain.

Perbedaan penentuan seperti ini bukan hal yang baru dan sering membuat pertanyaan bagi kalangan awam/terpelajar. Pada dua kasus di atas, baik Indonesia maupun Arab Saudi mendasari keputusan berdasarkan bisa tidaknya bulan sabit dilihat (rukyatul hilal, namun hasilnya berbeda. Lalu bagaimana data ilmiah atau astronomis menilai perbedaan semacam ini? Manakah yang lebih kuat pijakan ilmiahnya?

Berikut adalah gambar kemungkinan dilihatnya hilal (bulan sabit) di dunia setelah saat matahari tenggelam pada tanggal 29 Agustus 2011.

Kriteria Khalid Shaukat (moonsighting.com)

 

Data bisa dilihatnya bulan sabit tanggal 29 Agustus 2011 di dunia
Data bisa dilihatnya bulan sabit tanggal 29 Agustus 2011 di dunia. Daerah yang tidak diarsir sangat tidak mungkin bisa melihat bulan sabit. Klik gambar untuk memperbesar.

Kriteria Muhammad Audah (Islamic Crescent Observation Project – ICOP)

 

Kriteria Odeh - Kemungkinan rukyatul hilal global.
Data bisa dilihatnya bulan sabit tanggal 29 Agustus 2011 di dunia. Daerah yang tidak diarsir sangat dan diarsir merah tidak mungkin bisa melihat bulan sabit. Klik gambar untuk memperbesar.

Dari gambar di atas jelas sekali bahwa secara astronomis, baik wilayah Indonesia maupun Arab Saudi, tidak mungkin melihat bulan sabit baik dengan teropong maupun mata telanjang. Jadi, keputusan pemerintah indonesia menolak klaim dilihatnya bulan di Cakung dan Jepara memiliki dasar ilmiah yang kuat. Apalagi yang di Cakung menyebutkan ketinggian bulan 3,5 derajat yang jauh dari perhitungan astronomis sebesar maksimum 2 derajat untuk wilayah indonesia.

Bagaimana dengan Arab Saudi? Para kalangan ilmuwan sering kali mempertanyakan keputusan Majelis A’la (Qadha) mereka yang seperti sangat ringan dalam menerima laporan klaim dilihatnya bulan sabit meskipun secara astronomis tidak mungkin dilihat. Mereka menyayangkan beberapa keputusan mereka, yang seringkali diikuti oleh negara lain dan menjadikan perbedaan hari raya.

Wallah a’lam bish shawab. Semoga Allah menunjuki penguasa kaum muslimin untuk bisa bersepakat dengan kalender islam yang menyatukan umat.

Related tags:

bagaimana cara menentukan tanggal 1 syawal; 1 sawal 2016 di arab; utk memberikan kepastiam bhw peta itu akurat spt dilihat dr; Syawal hari Rabu; Penetapan 1 syawal 1432 h; negara2 yang nampak bulan syawal; mengapa utk menentukan idul fitri diperlukan sidang isbat pdhl sdh ditetapkan dlm kalender masehi; kejelasan dari kata zuhal; foto tropong mnandakan 1 syawal; cara mudah menghitung syawal; cara menentukan 1 syawal secara geografi; berapa hitungannya malam ini tanggal 27 september 2016 jika menurut hilal; 1 sswal jatoh pada hari Apa diarab; yang membuat perbedaan 1 syawal 1437 h dengan negara lain;

Spread the love

Related Post

62 Comments for “Dasar Ilmiah Penentuan 1 Syawal 1432 H”

says:

seharusnya pemerintah harus lebih konsisten, mau make rukyat atau hisab. Jangan pake keduanya, bingung kan jadinya. Ketika ada yg melihat hilal ditolak pakai hasil hisab, ketika diajak pake hisab katanya harus pake rukyat. Sekaligus juga, buang tuh jadwal sholat yg ada di mesjid hasil hisab karena nabi gak nentuin waktu sholat beradasarkan hisab. Peace..

says:

seharusnya pemerintah harus lebih konsisten, mau make rukyat atau hisab. Jangan pake keduanya, bingung kan jadinya. Ketika ada yg melihat hilal ditolak pakai hasil hisab, ketika diajak pake hisab katanya harus pake rukyat. Sekaligus juga, buang tuh jadwal sholat yg ada di mesjid hasil hisab karena nabi gak nentuin waktu sholat beradasarkan hisab. Peace..

says:

hisab dan rukyat dapt di satukan.dan itu bisa saling melengkapi..
sehingga dalam penentuan bulan ramadlan atau satu syawal dapat di terapkan keduanya. Rukyat sebagai metode konservatif dengan melihat hilal dapat diprediksi dengan hisab. Sehingga kemungkinan untuk melihat hilal, jika sudah diperidiksi dengan hisab akan lebih menambah ketepatan. Metode ini yang disebut dengan metode (imkanurrukyat/kemungkinan hilal untuk di rukyat)..

Dasar Hukum Penetapan tersebut adalah:

يَسْئَلُونَكَ عَنِ اْلأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ …

Mereka bertanya kepadamu tentang Hilal (bulan sabit). Katakanlah: "Hilal / Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji… (QS Albaqarah 189)

صُوْمُوا لِرُؤيَتِهِ وَافطِرُوا لِرُؤيَتِهِ فَاِنْ غُبِّيَ عَلَيكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلآثِينَ (متفق عليه)

Berpuasalah bila kalian melihatnya (hilal) dan ahirilah shaum bila kalian melihatnya (hilal). Tetapi jika terhalang maka genapkanlah bilangan Sya’ban 30 hari. (Bukhori 1776)

صُوْمُوا لِرُؤيَتِهِ وَافطِرُوا لِرُؤيَتِهِ فَاِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُم فَاقْدُرُوا لَهُ ثَلآثِينَ (رواه مسلم)

bila kalian melihatnya (hilal) dan ahirilah shaum bila kalian melihatnya (hilal). Tetapi jika terhalang maka tetapkanlah (shaum) 30 hari. (Muslim 1796)

لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ
Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihatnya. Apabila kalian terhalang sempurnakanlah jumlahnya menjadi tiga puluh. (HR Bukhori 1774)

اِذَا رَأيْتُمُ الـهِلاَلَ فَصُوْمُوا واِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَاِن غُمَّ عَلَيْكُمْ فَصُومُوا ثَلاَثِينَ يَوْمًا (رواه مسلم)

Apabila kalian melihat hilal, maka shaumlah dan jika kalian melihat hilal (kembali) maka ahirilah shaum. Tetapi jika terhalang (sehingga hilal tidak terlihat) shaumlah 30 hari (Muslim 1808)

Itstinbat dari dalil-dalil diatas adalah:

Awal bulan ditetapkan berdasarkan kemunculan hilal (bulan terlihat bercahaya)

Lafadz-lafadz: فَاِنْ غُبِّيَ – فَاِنْ أُغْمِيَ – فَاِن غُمَّ dalam hadits-hadit di atas mengandung makna jika bulan "ghumma/terhalang" atau "tidak terlihat sebagai hilal" (walaupun di atas ufuq) maka bulan tersebut tidak/belum wujud menjadi hilal atau tidak bisa disebut hilal

Berdasarkan penelitian astronomis bulan disebut hilal atau dapat diamati sebagai hilal jika saat maghrib:

tinggi bulan > 4˚ dan elongasi bulan ( jarak bulan-matahari) > 6,4˚ (Thomas Djamaluddin, 2010)
fraksi Iluminasi (prosentase piringan bulan yang menghadap bumi tercahayai matahari) > 0,5% umur bulan Lebih dari 8 jam

Dari penjelasan di atas, adalah sebuah kejelasan.bahwa, penetapan awal ramadlan atau satu syawal adalah dengan nampaknya hilal. Karena dengan nampaknya hilal. hilal perlu diprediksi dengan hisab. apakah hilal memiliki ketinggian yang dapat dilihat atau tidak. Misal berdasarkan hisab ketiggian hilal 3,9˚. Menurut penelitian, hilal tidak nampak pada ketinggian dibawah 4˚. Namun karena tinggi yang relatif tidak jauh. perlu di rukyat apakah hilal benar-benar nampak ato tidak. Jika berdasarkan rukyat ternyata hilal kelihatan, maka jelas satu ramadlan ato satu syawal jatuh pada malam itu.

Ada kasus lain pada zaman tabi'in. berdasarkan hisab, tinggi hilal telah lebih dari 4˚ (harusnya hilal telah nampak). namun ketika di rukyat, hilal tidak nampak. Berdasarkan hadits rasulullah
"Apabila kalian melihat hilal, maka shaumlah dan jika kalian melihat hilal (kembali) maka ahirilah shaum. Tetapi jika terhalang (sehingga hilal tidak terlihat) shaumlah 30 hari (Muslim 1808).Sehingga ketika itu, walaupun hilal telah tinggi, namun tidak dapat di rukyat, ramadlan pada zaman itu di genapkan menjadi 30 hari..

Berbeda dengan jadwal sholat, penetapan awal bulan di tetapkan dengan predaran bulan, sementara jadwal sholat berdasarkan predaran matahari..inilah yang menyebabkan kenapa jadwal sholat tiap tahun dan bulannya tidak ada perbedaan. dan sesuai dengan hadits nabi, yang memerintahkan kita sholat dengan melihat peredaran matahari..

Wallahu a"lam..

iywan

says:

kalender islam tentunya berlaku diseluruh dunia,bukan hanya di indonesia yang berhak menentukan awal bulan, dalam syariat Islam tidak berlaku yang namanya islam indonesia atau islam arab,atau islam amerika,jika ada umat islam dinegri lain yang melihat bulan sabit wajib tentunya yang lain mengikuti,bukannya membuat ajaran “baru” yakni islam nasionalis berdasar pada geografi semata dalam menjalankan syariat islam.tapi inilah bentuk keberhasilan orang kafir memecah belah umat islam

aulia rahman

says:

ini kan masalah ibadah….harus berdasarkan dalil yg shahih dan pemahaman yang benar tentang hadist tsb…nah ini yang perlu di pelajari bukan adu main akal akalan…. apa ada dalilnya beribadah itu harus mengikuti keputusan organisasi……..ini ujian besar utk jama'ah muhammadiyah apakah ia termasuk orang yg fanatisme golongan atau tidak…apakah ia termasuk ahlussunnah atau mu'tazilah/JIL/syiar dlll

H.Khaeruddin

says:

Melengkapi tulisan diatas, artikel dimaksud dapat di baca secara lengkap pada : ///sabq.org/sabq/user/news.do?section=5&id=29468

H.Khaeruddin

says:

Sekedar informasi saja untuk memperkaya wacana. Polemik ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di Saudi Arabia. Silahkan dibaca:

PENENTUAN 1 SYAWAL 1432
DI SAUDI ARABIA MENYISAKAN POLEMIK
(Lihat tulisan aslinya pada : http://sabq.org/sabq/user/news.do?section=5&i

Seperti diketahui bahwa pemerintah Saudi dalam menentukan Awal Tanggal Qomariyah untuk menentukan waktu- waktu ibadah seperti Romadhon- Syawal- Dzul Hijjah- selalu berdasar Rukyat. Kemudian atas dasar kesaksian orang yang mengaku melihat hilal dimalam Senin 29 Agustus- 2011 pula pemerintah Saudi menentukan 1 Syawal- 1432 jatuh hari Selasa 30- Agustus 2011. Ternyata keputusan tersebut menimbulkan polemic di Saudi. Diantara isi polemic tersebut adalah seperti yang di siarkan secara khusus oleh Harian Sabaq di Riyadh, yang dicoba untuk diterjemahkan sebagiannya sebagaimana tulisan dibawah ini:

Terjemahan oleh: KHD- Karawang,

Abdullah Barqawi – (SABAQ – 30-08-2011) – Riyadh – Saudi Arabia : Astronomical Society (Lembaga Masyarakat Astronomy/ Falak) di Jeddah, hari ini, mengeluarkan sebuah pernyataan yang menggegerkan yang membenarkan kurangnya kemampuan untuk melihat bulan sabit dari awal bulan Syawal 1432 kemarin, sebagaimana yang dipertanyakan oleh Lembaga Falakiyah Saudi yang meragukan cara menentukan malam bulan baru Syawal kemarin dan mengumumkan pernyataan itu pada Selasa hari pertama Iedul Fitri 1432 H.

Lembaga Astronomy/ Falakiyah tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan khusus oleh harian "SABAQ", yakni apa yang telah dilihat sebagai Hilal pada malam itu untuk penentuan Idul Fitri, kemungkinan adalah planet Saturnus (bintang Zuhal, bukan Hilal). Seperti diketahui bahwa planet Saturnus, setelah matahari terbenam, ia akan berada di selatan matahari, dan Lembaga Falakiyah mengkonfirmasi bahwa hal ini mengingatkan apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu di Saudi dalam kejadian yang sama dengan planet Merkurius (bintang Athorid, yang juga disangkakan dan dianggap sebagai Hilal)….dst

Zakaiya

says:

Hari & tanggal itu berkaitan dg kalender. Kalender yang baik adalah yang bisa menentukan hari dan tanggal secara akurat/pasti jauh ke depan dan bisa melacaknya di masa lampau. Dan yang menentukan adalah sistem kalender itu sendiri tanpa campur tangan dari pihak manapun. Kalau hari dan tanggal di tentukan satu hari sebelumnya dan di putuskan oleh "penguasa /yang berwenang" berarti sistem kalender itu buruk. Sehigga bisa disimpulkan "Betapa buruknya sisitem kalender yang di miliki Umat Islam ini". Hal ini dikarenakan karena penentuan hari&tanggal/kalender tsb menggunakan rukyah bil fi'li. Selama Ummat Islam masih berpedoman rukyah bil fi'li, maka samai kiamatpun di jamin tidak akan bisa memiliki kalender global yg baik. Sungguh sangat ironis……. selama 1.500 th/1,5 milenium perkembangan dan peradaban Islam masih belum punya kalender yg akurat dan sistematik. Bangsa Sumeria saja sejak 6.000 th yg lalu sudah punya kalender yg akurat. Begitu juga saudara kita yang Nasrani juga sudah punya kalender yg akurat.
Kalau Umat Islam ingin punya kalender global, 1 hari 1 tanggal, maka ummat Islam harus rela meninggalkan rukyat, sebab rukyat itu mempunai kelemahan :
1.Tdk dpt memastikan tanggal jauh ke depan, karena tangal baru bisa diketahui melalui rukyah pada H-1 (sehari sebelumnya)
2.Tidak dapat menyatukan tanggal, karena harus membelah dunia menjadi 2 zona, yaitu zona/kurve yang bisa merukyat dan zona/kurve yg tdk bisa merukya. Lagi pula daerah yg letaknya >60 drjt LU/LS tdk bisa merukyat.(sbgmn anda lihat dam blog ini)
3.Rukyat tdk bisa menyatukan hr arafah antara mekah dg negara lainnya pd tahun-tahun tertentu (selama 20 th (1431-1450H) akan terjadi 20x perbedaan hari arafah=40%
4. Faktor yg mempengaruhi rukyat terlalubanyak : a. faktor geometris (posisi matahari,bulan dan bumi). b. faktor Atmosferik (cuaca dan atmosfer). c. Faktor fisiologis (kemampuan manusia menangkap pantulan sinar dari permukaan bulan. d. faktor psikologis (keinginan kuat utk dpt melihat hilal, sering mendorong terjadinya halusinasi, shg sering terjadi klaim bhw hilal telah terlihat, pdhl secara ilmiah belum)
Untuk itu, pakailah hisab/perhitungan "Dia-lah yg menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tdk menciptakan yg demikian itu melainkan dg baik. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kpd orang-orang yg mengetahui (Q.S Yunus/10:5)
Alasan menggunakan hisab :
1. Dapat memberikan kepastian tanggal dan bisa menghitung tangal jauh ke depan dan melacak jauh ke belakang.
2. Mempunyai peluang utk menyatukan penanggalan Ummat Islam sedunia. Konfrensi Pakar Islam sedunia (ISESCO) II 2008 : "Mustahil menyatukan sistem penanggalan umat Islam kecali dg mengguakan hisab".
3. Prosedurnya sederhana, biaya murah , tdk perlu sidang isbat dg biaya yg mahal, bisa merencanakan kegiatan dg pasti tanpa menunggu pengumuman dr otoritas yg bersangkutan.

ibnu

says:

Betul, tp masalahnya yang diperhitungkan sbg bulan baru dalam Al-Qur'am 10:5 itu adalah bulan yang bercahaya (qomaro nuran) bukan bulan yang asal di atas ufuk (meskipun hanya 0,1) kemudian dianggap bulan baru. Hal ini juga sdh diteliti, yg hasilnya menunjukkan bahwa bulan dapat bercahaya stlh berada 4 derajat di atas ufuk. Hal itu, dilakukan berkali-kali setiap bulan (bulan hijriyah kan tidak hanya ramadan dan sawal). Dan yang menentukan adalah ahlinya, LAPAN, Boscha, kalau mau yang tidak ada baunya Indonesia ya ICOP spt di atas.

saepuk

says:

Mohon ma'af sebelumnya…Pemerintah Indonesia dan para ulama hanya menjalankan perintah Rasul : "Berpuasalah kamu dengan melihat hilal dan berbukalah kamu dengan melihat hilal"…

panggih

says:

aku tidak sepakat dengan ini :"tidak mungkin melihat bulan sabit baik dengan teropong maupun mata telanjang"
secara astronomi ilmu yg dipelajari manusia karena tidak ada yang tidak mungkin bagi ALLAH yang memberikan kesempatan bagi orang untuk melihat bulan sabit
bersyukurlah mereka yg diberi kesempatan melihat bulan sabit pada waktu yg lebih awal….
"kita harus menghargai orang yg benar2 melihatnya"
Tadi malam tgl 12 september 2011 bulan sudah mulai kelihatan bulat hampir sepenuhnya…..

says:

Tentu tidak dilarang untuk tidak bersepakat. Tetapi Allah jugalah yang memberikan ilmu kepada para astronom sehingga bisa menghitung dengan tingkat ketelitian tinggi. Dengan ilmu semacam mereka bisa menyatakan pernyataan seperti yang tidak anda sepakati. Sama halnya dengan orang yang menyatakan bisa melihat matahari, padahalah sudah saat isya', misalnya.

Benar, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Masalahnya, bagaimana kita tahu bahwa Allah memberi kesempatan kepada orang tersebut bisa melihat bulan? Sementara di lain pihak, Allah telah memberikan ilmu yang lebih jelas kepada ribuan ahli falak lainnya.

Raja

says:

Ingat bahwa bumi kita bulat. Indonesia 4 jam lebih cepat dari waktu Arab. Wajar kalau arab bisa melihat hilal pada saat matahari terbenam sekitar pukul 18:00 waktu Arab. Saya rasa pemerintah Indonesia sudah memberikan keputusan yang tepat untuk menetapkan 1 Syawal tanggal 31 Agustus. Yang saya sayangkan alangkah nista nya negara2 seperti Malaysia yang cuma bisa ikut-ikutan.

Ojen Al Arifa

says:

Tiap Waktu Sholat Lima Waktu dari mulai Shubuh sampai Isya dalam satu bulan bahkan dalam
1 tahun sudah dapat ditentukan dan bisa kita lihat tiap hari atau minggu selalu berubah.
Waktu sholat ini diterbitkan oleh Departemen Agama, dan tidak satupun orang atau ormas yang menentangnya!
Apakah waktu sholat itu hasil Rukyat atau Hisab?
Mengapa hari penetapan Hari Jum'at yang mengikuti tahun Masehi TIDAK dipertentangkan?
Lalu, Kenapa waktu 1 Syawal yang keberadaannya 1 tahun 1 kali jadi bahan pertentangan?
Pernahkah Rasululloh SAW, dalam menentukan 1 Syawal melalui proses DEMOKRASI suara terbanyak?
Mudah-mudahan jadi bahan renungan kita, di malam-malam sa'at setelah Tahajud…. Semoga.

haqqi

says:

Menurut Ulama LAPAN dalam hal ini Thomas Jamaluddin : sebenarnya perbedaan itu bisa dihindari ketika Seluruh Ormas dan Ulama indonesia sepakat kalo "hisab dan rukyatnya" di pakai semua, keduanya saling melengkapi antara hisab dan rukyat.
menurut ilmu matematika penggunaannya "Hisab dan Rukyat " bukan "Hisab atau Rukyat ".

pertanyaannya " Kenapa waktu 1 Syawal yang keberadaannya 1 tahun 1 kali jadi bahan pertentangan?"
kalau gak ada hadits utk menggenapkan 30 hari kalau tidak melihat bulan , gk bakalan pusing-pusing tinggal enak aja 29 manut… 30 monggo… (permslahannya mo cari enak dan menang sendiri atau berhati-hati dan mencari ridho Allah)

tdjuwarsa

says:

Jika software stellarium benar: (1) di bandung, tgl. 29/8/2011 matahari tenggelam mendahului bulan, meskipun kurang dari 2 derajat.(2) dg software yg sama, tgl.28/9/2011 dg jelas matahari akan tenggelam mendahului bulan. (3) Jadi, menurut versi saudi ramadhan & syawal 29 hari. Sedangkan versi RI; ramadhan 30 hari dan syawal 28 hari. Pertanyaan awam: bagaimana penjelasannya? Manakah yang lebih cermat?

says:

Jika anda konsisten dengan kriteria penentuan awal bulan qomariyah, maka 30 hari ramadhan kemudian 28 hari syawal tidak akan terjadi. Versi pemerintah ramadhan 30 hari, syawal dimulai 31 Agustus, nanti syawal berakhir 28 September, artinya Syawal = 29 hari, bukan 28 hari.

Yang kami soroti di tulisan ini adalah bisa tidak DILIHATNYA bulan sabit sebagai dasar penentuan awal bulan.

Ahmad Mubarok

says:

Sebenarnya antara hisab dan ru'yah sama-sama dibutuhkan, keduanya harus berjalan seimbang, seirama dan saling isi mengisi. Dengan kecanggihan hisab, lima sampai sepuluh tahun ke depan akan ketahuan dengan mudah kapan terjadinya gerhana matahari/bulan berikut waktu jam dan menitnya, termasuk penentuan bulan baru Hijriyah setiap bulannya akan dengan sangat mudah ditentukan jauh-jauh sebelumnya. Kebenaran hisab bisa dibuktikan dengan melihat langsung terjadinya gerhana/bulan atau bulan baru berlangsung. Melihat langsung ini dalam istilah Arabnya dinamakan ru'yah. Hisab sebenarnya bukan milik warga ormas tertentu saja seperti Muhammadiyah, tetapi semua ormas yang lainnpun seperti NU juga memakai hisab. sehingga warga NUpun dengan hisabnya bisa menentukan kapan terjadinya hari yara idul fitri dan ini terbukti di kalendernya juga memberi tanda merah pada hari raya idul fitri jauh-jauh sebelumnya. Antara Hisab versi NU dan hisab versi Muhammadiyah selalu terjadi kesamaan dalam menilai ketinggian hilal di saat ghurub setelah terjadinya ijtimak. Tapi mengapa hari rayanya berbeda ? ternyata setelah saya amati dari kedua versi ini adalah terletak pada wujudul Hilal dan imkanul hilal dalam menentukan tanggal 1 bulan Islam. Dalam versi Muhammadiyah asalkan sudah wujudul hilal artinya bulan terbenam sesaat setelah matahari terbenam dan sudah terjadi ijtima' maka itu sudah menandakan sudah masuk awal bulan baru walaupun hilal tidak tampak mata saat itu seperti terjadinya penetapan 1 syawal baru-baru ini. Namun bagi warga NU belum tentu, tapi harus melihat ketinggian hilal dulu. Hilal harus di atas 2 derajat. Ketinggian bulan saat itu belum imkan, ketinggian bulan menurut hisab dari semua versi belum sampai 2 derajat dan umur matahari sejak terjadinya ijtima' hingga ghurub belum sampai 8 jam maka tidak mungkin hilal bisa dilihat dengan alat secanggih apaun sehingga puasa digenapkan menjadi 30 hari. Bagi warga NU setiap tanggal baru biasanya ditandai dengan adanya bulan sabit. Tapi di saat merukyat kemarin tidak ada bulan sabit, tidak imkan maka puasa disempurnakan menjadi 30 hari. Namun karena ada himbauan hadits Rasulullah agar shumu liru'yatihi wa aftiru liru'yatihi maka warga NU merasa harus melaksanakan melihat bulan. Hanya saja yang jadi pertanyaan bagi kita adalah apakah kita pakai wujudul hilal atau imkanul hilal.

masyun

says:

Hisab nya PERSIS tdk sama Muhammadiyah…. jadi giman TUH?????? kan mending ikut PEMERINTAH (ULIL AMRI) sesuai petunjuk Al_Quran Bukannya ikut ORMAS…. ditambah lagi Pemerintah di Backup ahli falaq dari ITB, LAPAN, masak mau sangksi…subhanalloh…mereka sdh kompeten di bidangnya. Jadi saya kira bukan masalah HISAB atau RUKYAT…. tapi yang penting saling menghormati dan menghargai yg lain, krn mrk punya dasar masing2. apakah torikot2 jg salah??? annadzir juga salah??? mereka juga punya dasar /metode tersendiri. yg penting mau sholat, zakat, puasa, haji… slesei dah urusan

amir

says:

Begini, menurut hemat saya yang awamini, tinggal kita perhatikan "Bulan Purnama" depan ini, pasti tanggal 15 kan?" Nah tinggal kita hitung mundur berapa tepatnya tanggal 1 Syawal kemarin….30 atau 31 Agustus… setuju?

Karyo

says:

Senin malam tanggal 12 september 2011, bakda maghrib bulan sudah purnama penuh/100%(sebagaimana tertera pada Kalender Hijri), kalau dihitung mundur berarti 1 syawal 1432 H = 30 Agustus 2011 M
.

Doddy

says:

Kalo memang mengartikan "melihat / menyaksikan" hilal itu dalam redaksi Dalil harus dengan mata telanjang, maka Arab Saudi jelas SALAH BESAR..!

Tetapi saya lebih yakin pada ulama-ulama di Arab Saudi, lebih memahami bahasa dan redaksi hadits tersebut sehingga mereka memperbolehkan penggunaan teknologi untuk membantu dalam pengambilan keputusan 1 syawal

Teknologi adalah ilmu yang Allah berikan kepada manusia, agar mempermudah urusan manusia saat ini apalagi di zaman sekarang ini, "global Warming" sudah mengambil bagian besar dalam proses terlihatnya hilal dengan menggunakan teknologi sederhana (teleskop)..

Yang menarik dalam gambar tersebut adalah, ARAB dan Indonesia dan negara lainnya memang tidak akan dapat melihat "hilal".. tetapi Arab mengambil kesimpulan penetapan 1 syawal dengan bantuan teknologi (dan pertimbangan lainnya).

Sedangkan Indonesia memilih jalan yang lain padahal apabila indo menggunakan teknologi serupa maka Insya Allah hasilnya akan serupa.. Wallahu'alam

Silakan disimpulkan sendiri.. tanpa harus menyalahkan satu dengan yang lain..

fahmi

says:

Aslm. Pertanyaan saya, masuknya bulan baru dalam Islam apakah karena rukyatul hilal atau karena adanya hilal? Kalau kita gunakan nurani dan ilmu pengetahuan, jawabannya adalah karena adanya hilal, bukan karena rukyatul hilal. Kalau begitu mengapa nabi menggunakan rukyatul hilal, karena tidak ada sarana lain yang dapat digunakan oleh nabi pada zamannya selain rukyatul hilal. Nabi dan sahabatnya tidak dapat melakukan hisab astronomi. Jadi rukyatul hilal adalah sarana untuk mengetahui posisi hilal itu. Cara lain adalah dengan hisab. Perkembangan ilmu hisab sekarang ini sudah sangat luar biasa, mengapa kita tetap bersikukuh dengan rukyat, yang bukan menjadi tujuan syari'at? Sampai hari ini dan seterusnya, kita tidak akan pernah mempunyai kalender hijriah internasional kalau kita memakai rukyat, kita hanya bisa memiliki kalender hijriah kalau kita menggunakan hisab. Mari kita kaji, QS Arrahman ayat 5, Surat Yunus ayat 5, Surat Al Isra ayat 17. Insya Allah kita akan tercerahkan. Bagaimana dengan QS 2 ayat 185, yang harus digaris bawahi adalah Allah memakai kata Asysyahr. Asysyahr artinya bulan, tapi bukan bulan yang di langit kawan, yang dimaksud oleh qur-an adalah bulan yang 12 itu. Qur-an tidak memakai kata al-qamar. Oleh karenanya makna yang dipakai adalah barang siapa yang ada dikampung halamannya pada bulan itu, hendaklah dia berpuasa. Selanjutnya shu-mu- li rukyatihii dst, ini adalah perintah puasa, bukan perintah rukyat toh. Baca lagi hadisnya.

ibnu

says:

Betul, dalam Alquran surat Yunus 5 barangkali jelas, sebab di sana ada kata hisab (perhitungan), ada kata sinin (tahun), dan ada kata qomaro nuran (bulan bercahaya) yang dibedakan dengan kata syamsa dliyaan(mataharai bersinar). Dengan demikian hisab yang dilakukan adalah mencari apakah bulan sudah nuran (bercahaya) atau belum? Dalam ayat tersebut karakteristik bulan dibedakan dengan matahari (syamsa) yang bersinar (dliya'an). Pengertian saya yang awam, matahari begitu muncul berapapun derajatnya pastilah bersinar. Hal ini berbeda dengan bulan yang hanya memantulkan (cahaya/nuran) tidak secara otomatis bercahaya ketika sudah berada di atas ufuk karena memantulkan maka muncullah hukum pantul yang pernah dipelajari ketika SMP, yaitu sudut datang haruslah sama dengan sudut pergi. Oleh karena itu, wajarlah jika meskipun dalam perhitungan bulan telah berada di atas ufuk namun belum terlihat. Bulan adalah benda konkrit ayangf keberadaannya harus dapat dibuktikan berbeda dengan benda gaib yang keberadaannya hanya diyakini. Wallahu a'lam bishowab.

tono

says:

Dijaman rosullulah dulu , jika ada perbedaan dalam penetapan hari raya , ternyata pemerintah juga yang menegahinya ! kok sekarang ada kelompok yang gak taat pada penetapan 1 syawal yang ditetpkan oleh pemeriontah ??

satria

says:

koq ya bisa2nya berkesimpulan bahwa negara2 Islam itu salah? masak gara-gara 1 artikel ini jadi su'uzon kepada negara Islam lainnya? membela pemerintah RI itu baik tapi bukan dengan cara menyalahkan negara lain, …..salam ukhuwah,.

deen

says:

HOTNEWS : Saudi ralat 1 Syawal 1432, dari Selasa menjadi Rabu, 31 Agustus 2011. Atas kesalahan penetapan ini disinyalir pemerintah Saudi harus membayar kafarat sebesar 1 milyar rial (2,5 Triliun). Teleskop saudi di Jeddah tidak berhasil melihat hilal pada Senin. Keputusan 1 Syawal 1432 ditetapkan berdasarkan kesaksian beberapa orang yang konon melihat hilal. Ternyata yang dilihat bukan hilal dari planet Saturnus (mungkin maksudnya Venus)…. O la la la

says:

Berita ini TIDAK BISA DIPERCAYA, alias bohong. Meskipun kesaksian semacam itu diragukan, tetapi kenyataannya tidak ada berita resmi mengenai RALAT atau KAFARAT dari Pemerintah Arab Saudi.

ibnu

says:

pemerintahlah yg bertanggung jawab n yg mengetok palulah yang akan di hisab besok…
bulan tadi sudah terlihat besar, maka mlm ini adalah mlm ke 3 syawal…

didin

says:

dari sembilanpuluh titik tempat hilal hanya dua yany mengaku melihat,
berarti sangat tidak kuat alias bisa saja bohong demi kepentingan gololngan tertentu

andi

says:

emannya yang liat hilal di cakung cuma 1 orang / satu kelompok ?, sedangkan dijaman Rasul Satu orang baduy pun bisa menjadi acuan idul fitri ,,,,,,,tinggal sumpah aja yang ngeliat hilal dicakung kaya di jaman Rasul.

ibnu

says:

Pengakuan haruslah didukung dengan keterangan yang ilmiah, metode apa yang digunakan mengapa hasil hitungannya tidak sama dengan yang lain. Berapa kalikah ia menggunakan metode tersebut dalam menentukan bulan baru(bulan hijriah tidak hanya ramadan dan sawal), jika telah ia gunakan selama setahun misalnya, berapakah ketepatannya, lebih dari lima puluh persen atau kurang dari lima puluh persen. Pada masa Nabi tingkat kejujuran sahabat sangat tinggi. Pada saat sekarang, pengakuan di bawah sumpah pun belum bisa menjamin. Itulah sebabnya harus dikonfirmasi dengan ahlinya yang telah melakukan penelitian setiap bulan. Ilmu pengetahuan eksakta itu haruslah dapat dibuktikan. 1+1 itu poasti ada dua kalo ada yang mengatakan 1+1= 3 maka orang seperti ini harus diteliti lagi kebenaran pengakuannya meskipun dia berani bersumpah di bawah Alquran.

Muhammad Irfan

says:

Alhamdulillah, pemerintah kita bukan Thogut. Yang Thogut itu adalah para imam jema'ah yang suka minta dibai'at dan mengangkat diri jadi kholifah…

Hasan Abidin

says:

Menyambung Pernyataan Ariko bahwa Afrika Selatan, Indonesia, Oman dan Selandia Baru Merayakan n Hari Raya Idul Fitri 1432 H tgl 31 Agustus 2011, yang menjadi sorotan khusus adalah Afrika Selatan, yaitu menurut Kriteria Khalid Shaukat (moonsighting.com) Data bisa dilihatnya bulan sabit tanggal 29 Agustus 2011 di dunia, Afrika Selatan termasuk dalam warna hijau artinya bisa melihat bulan sabit, tapii kok merayakan idul fitri tetap juga Hari Rabu? bagaimana ini HABIB? adalagi pertanyaan BIB " jika daerah arsiran yang bisa melihat bulan sabit tgl 29 Agustus 2011 apakah hanya untuk daerah tersebut atau bisa untuk patokan seluruh negara? bagaimana ini BIB?

says:

Yang warna hijau bukan AFRIKA selatan tetapi AMERIKA Selatan. Untuk afrika selatan termasuk arsiran namun dengan syarat memakai bantuan teropong. Jadi, di sana kemungkinan besar tidak ada yang melihat bulan sabit.

Untuk patokan negara lain, sayangnya sekarang tiap negara memiliki aturan masing-masing. Idealnya bisa, agar terjadi penyatuan kalender.

kamaruzzaman

says:

Taatilah Allah,Taatilah Rasul,dan ulil amri (pemerintah),siapa yg benar siapa yang salah,Allah yang Maha Tahu……….yang jelas pemerintah yang memberikan fatwa dialah yang nantinya pertama sekali diminta pertanggungjawaban diakhirat kelak…….Wallahuallam

usamah

says:

masih mending kalo yang ditaati ulil amri, kalo yang ditaati adalah thoghut seperti penguasa negeri ini trus gimana mas?

farhan

says:

maaf ikut nimbrung. ane orang awam, tapi boleh dong berpendapat.

sekarang kan udah lewat idul fitrinya, solatnya juga kan udah, ga usah lah saling nyalahin satu sama lain. masa kok sesama muslim masih suka nyebut muslim yang lainnya "thoghut". pemerintah juga kan memutuskan berdasarkan pendapat2 ulama2 yang lain, yang ilmunya sudah tidak diragukan lagi.

ane jadi sedih liat sesama umat islam suka pada ribut. padahal banyak masalah yang lbih besar yang harus diselesaikan umat islam. kaya maksiat yang banyak merajarela dimana2.

Ariko

says:

Mayoritas negara Islam didunia, termasuk hampir seluruh Negara Arab, AS, Eropa, Malaysia dan Brunei Darussalam, telah menetapkan Idul Fitri pada hari Selasa. Ada 4 negara didunia yang menetapkan hari Rabu, yaitu Indonesia, Selandia Baru, Oman dan Afrika Selatan.
Antara metode rukyah dan hisab, sama benarnya. Yang keliru adalah mereka yang merasa paling benar di antara kedua metode tersebut.
Berabad-abad orang seagama (dan tak seagama) saling bunuh karena perbedaan. Tapi ada kearifan seperti hari ini: berbeda itu tak apa-apa.
Setiap hari ketika kita tidak bermaksiat kepada Allah maka ia adalah 'Ied’ (Hari Raya) – Imam Ali.
Selamat Idul Fitri, Maaf Lahir Bathin.

hari

says:

tapi Rasulullah dan para shahabat selama puluhan tahu gak pernah menentukan 1 syawal dengan hisab mas… kalo memang 2 metode itu sama benarnya mestinya Rasulullah dan para shahabat sekali sekali pake metode itu dong…

yoriansyah

says:

mas sebetulnya nama kedua metode itupun dulunya belum ada, itu kan cuma kesimpulan para ulama yang terdahulu, ada metode hisab dan metode ru'yah. tapi apa yang diterjemahkan dengan kata ru'yah itu sendiri, kalo kita mengacu dari ayat-ayat al-quran yang mencantumkan asal kata yang sama dengan itu seperti ara'ayta, ra'yu dlsb selalu berarti melihat yang tidak semata-mata dengan mata fisik kita, tapi melihat dengan mata pikir atau mata hati. itu yang kemudian dikatakan sebagai metode hisab….. wallahu a'lam

tatakrasota

says:

ru'yat berasal dari kata ro aa. terambil dari hadits shumuu li ru'yatihi wa aftiruu li ru'yatihi ….

dari alquran faman syahida minkumusy-syahro fal-yashumhu

jadi ro aa bermakna syahida bukan hasiba

ro aa melihat
syahida menyaksikan
hasiba menghitung

karim

says:

aslm, gmn dg daerah2 lain yg memungkinkan terlihat hilal & jaraknya tdk lebih dari 1 hari bib?
jk mengikuti pendapat jumhur ulama (rukyat global), bukankah sdh bisa menjadi patokan bhwa hari ini 1 syawwal?

haqqi

says:

indonesia terbagi menjadi 3 waktu :WIB, WITA, WIT. (itu bru mslah wktu) bgaimna dgn hisabnya?
klo dihitung ada kemungkinan medan, aceh dan sekitarnya sudah masuk mungkin atau bisa jadi sdah 2 derajat lebh (maf bukan org medan jdi hnya menganalisis aj) sedangkan indonesia bagian timur itu masih dibwah 0 derajat. lucunya didaerah papua kan belum masuk baik itu hisab apalagi rukyat, ad sbagian klangan Fanatik slah satu ormas bsar diIndonesia, mereka ikut2an 29 hari.. eh mlah pginya saat sholat id hujan… ya.. Ini teguran ato barokahya..?
ini harus menjadi catatan penting trsndri atau himbauan kpada warga atau anggotanya yg ad diwilayah timur diberi kbjakan tersndiri.

says:

Biasanya, daerah yang masih dalam satu wilayah hukum (misal satu negara), mengikuti apa yang terjadi (misal, rukyah) di daerah lain dan keputusannya satu. Meski bulan tak bisa dirukyah misalnya, tetapai kemudian di daerah sebelah baratnya bisa, maka daerah yang ditimur mengikuti hasil rukyah di daerah barat tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *